Selasa, 07 Februari 2012

"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw. & Bersembunyi di Gua Tsur (1)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXIX 
Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa Hijrah 
Nabi Besar Muhammad Saw.  &
Bersembunyi di Gua Tsur (1)
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).
 
Dalam Bab sebelumnya pembahasan mengenai Nabi Yusuf a.s. telah berakhir dengan doa yang beliau panjatkan, firman-Nya:
رَبِّ قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ  بِالصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰۲
“Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian kedaulatan kepadaku, dan mengajariku  takwil mimpi. Ya  Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah Pelindung-ku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri dan  gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”  (Yusuf [12]:103).
        Firman Allah Swt. selanjutnya merupakan jawaban dari firman Allah Swt. dalam bagian awal Surah Yusuf a.s. dimana Allah Swt. telah berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai tujuan pemberitahuan kisah Nabi Yusuf a.s. kepada beliau saw. firman-Nya:
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ   کُنۡتَ  مِنۡ  قَبۡلِہٖ  لَمِنَ  الۡغٰفِلِیۡنَ ﴿۴
Kami menceriterakan kepada engkau kisah yang paling baik dengan mewahyukan kepada engkau Al-Quran ini, dan walau pun sebelumnya engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui. (Yusuf [12]:4).
       Sebagaimana telah dijelaskan  pada Bab mengenai ayat ini, yang menjadi sebab mengapa riwayat Nabi Yusuf a.s.   diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  begitu rinci ialah, karena riwayat itu mengandung banyak sekali isyarat berupa kabar gaib (nubuwatan) mengenai kehidupan beliau saw. sendiri. Seluruh riwayat itu seolah-olah akan terulang kembali dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri dan dalam kehidupan sanak-saudara beliau, kaum Quraisy, yang dalam Surah Yusuf diperagakan oleh saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin.
      Setelah  secara rinci menjelaskan kisah Nabi Yusuf a.s. dengan saudara-saudara tua beliau  mulai ayat 8 sampai dengan ayat 102 sebelum ini, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).
        Ayat ini berarti bahwa riwayat Nabi Yusuf a.s. a.s.   itu bukan hanya kisah semata-mata. Riwayat itu mengandung nubuatan agung mengenai hari depan Nabi Besar Muhammad saw., khususnya setelah beliau saw. hijrah dari Makkah ke Madinah  akibat  makar buruk yang dirancang oleh para pemimpin kaum Quraisy Makkah pimpinan Abu Jahal. 
     Dengan demikian kata pengganti “mereka”  dalam ayat tersebut menunjuk kepada musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw.,  yang karena kedengkian mereka terhadap beliau saw. – sebagaimana kedengkian saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. terhadap Nabi Yusuf a.s. – telah melancarkan  suatu makar buruk, yakni  upaya melakukan pembunuhan terhadap Nabi Besar Muhammad saw., sehingga dengan terbunuhnya beliau saw. – na’udzubillaahi min dzaalik – mereka beranggapan  bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. pun akan kembali bergabung dengan mereka.
      Namun dalam kenyataannya harapan mereka tersebut sia-sia belaka karena sebagaimana halnya Nabi Yusuf a.s. telah diselamatkan oleh Allah Swt. dari makar buruk saudara-saudara tua beliau dan beliau bahkan memperoleh kemuliaan di kerajaan Mesir, demikian  pula halnya yang terjadi dengan Nabi Besar Muhammad saw. setelah melakukan hijrah ke Madinah akibat makar-buruk yang dilakukan oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Mengenai hal itu Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).
       Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru – yakni agama (ajaran) Islam -- gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Makkah telah  hijrah ke Madinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat program ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
      Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.  lalu membunuh beliau. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt., tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. untuk beberapa lama berlindung di Gua Tsur bersama-sama Hadhrat Abubakar a.s., sahabat beliau yang setia, guna menghindari  penangkapan dari para pemburu beliau saw. yang telah diiming-imingi hadiah besar bagi siapa yang mampu menangkap beliau saw. –  baik dalam keadaan hidup mau pun mati -- dan akhirnya   setelah mengalami berbagai peristiwa yang sangat menegangkan di perjalanan,  berkat karunia Allah Swt.  akhirnya  Nabi Besar Muhammad saw.  serta Abu Bakar Shiddiq r.a. sampai di Medinah dengan selamat.
    Berikut adalah salah satu peristiwa yang sangat menegangkan yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a., ketika keduanya terpaksa harus bersembunyi di gua Tsur – sebuah gua yang sangat sempit dan dangkal serta penuh dengan binatang berbisa – firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿۴۰
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Taubah [9]:40).
      Kata pengganti nama hii  (nya) dalam anak kalimat “ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada   Abu Bakar Shiidiq r.a.,   karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya. Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab.  
      Yang dimaksud oleh ayat ini ialah peristiwa  hijrah Nabi Besar Muhammad saw. saw. dari Makkah ke Madinah ketika beliau didampingi oleh   Abu Bakar  Shiddiq r.a.  berlindung di sebuah gua yang disebut Tsur, sebuah gua sempit dan dan dangkal serta  menjadi sarang  binatang berbisa, khususnya kalajengking padang pasir yang sangat berbisa.
      Diceritakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. terpaksa harus segera mencari tempat  persembunyian karena kegelapan malam sudah  mulai diganti dengan datangnya siang hari, sehingga tidak  memungkinkan lagi bagi keduanya untuk meneruskan perjalanan menuju Madinah karena pasti akan terkejar oleh para pemburu mereka dari  Makkah, yang juga telah melibatkan pencari jejak yang mahir.
       Dalam upaya menyembunyikan diri  dari pengejaran mereka, lalu keduanya bersembunyi di gua Tsur – sebuah tempat yang sangat tidak layak untuk dipakai bersembunyi, karena  selain menjadi sarang binatang berbisa, juga   guanya sangat sempit dan dangkal. Itulah sebabnya ketika rombongan pencari jejak  dan para pemburu Nabi Besar Muhammad saw. telah sampai di dekat mulut gua Tsur keduanya melihat kaki mereka yang, sehingga hal tersebut sangat menggelisahkan hati Abu Bakar Shiddiq r.a., karena kalau saja mereka itu mau melihat kebagian bawah kaki mereka maka  pasti keduanya akan terlihat oleh para pemburu yang harus darah tersebut.
       Ada pun yang membuat para pemburu dari Makkah – yang dipandu oleh pencari jejak yang sangat mahir – tersebut tidak menaruh kecurigaan terhadap gua  yang ada di hadapan mereka, pertama adalah:
      (1)  Mulut gua tersebut telah  tertutup oleh jaringan sarang laba-laba, sehingga mereka piker kalau ada orang yang masuk gua tersebut maka pasti sarang laba-laba tersebut rusak.
     (2)  Di depan mulut gua tersebut terdapat burung yang sedang  mengerami telornya, sehingga  mereka berkesimpulan bahwa tidak ada orang yang  masuk ke dalam gua tersebut.
       Itulahlah sebabnya ketika pencari jejak yang mahir tersebut mendapati jejak-jejak kedua pelarian dari Makkah tersebut berhenti di depan mulut gua, ia berkata  bahwa  buruan yang mereka cari itu hanya ada 2 kemungkinan, yaitu (1) keduanya berada di dalam gua; atau keduanya naik ke langit.
      Karena mereka hanya mengandalkan analisa  secara akal (logika) saja,  akhirnya  mereka memutuskan untuk  meninggalkan gua Tsur tersebut, sehingga dengan karunia dan pertolongan khusus Allah Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. selamat dari para pemburu yang haus darah tersebut..
     Jadi, itulah keunggulan makar tandingan Allah Swt. berikutnya setelah Dia menyelamatkan Nabi Besar Muhammad saw. dari kepungan ketat  orang-orang yang akan melakukan penyerbuan ke dalam rumah beliau saw., sehingga beliau saw. bersama dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. pada malam itu juga dapat meninggalkan Makkah menuju ke Madinah.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar