بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXIX
Tentang
"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad Saw. &
Bersembunyi di Gua Tsur (1)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada
engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai
urusan mereka dan mereka akan melakukan
makar. (Yusuf [12]:103).
Dalam Bab sebelumnya pembahasan mengenai
Nabi Yusuf a.s. telah berakhir dengan doa yang beliau panjatkan, firman-Nya:
رَبِّ
قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ
عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ بِالصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰۲﴾
“Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian
kedaulatan kepadaku, dan mengajariku takwil mimpi. Ya Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah
Pelindung-ku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
berserah diri dan gabungkanlah
aku dengan orang-orang yang saleh.”
(Yusuf [12]:103).
Firman Allah Swt.
selanjutnya merupakan jawaban dari firman Allah Swt. dalam bagian awal Surah
Yusuf a.s. dimana Allah Swt. telah berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai tujuan pemberitahuan kisah Nabi
Yusuf a.s. kepada beliau saw. firman-Nya:
نَحۡنُ
نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ کُنۡتَ مِنۡ قَبۡلِہٖ
لَمِنَ الۡغٰفِلِیۡنَ ﴿۴﴾
Kami menceriterakan kepada engkau kisah yang paling baik
dengan mewahyukan kepada engkau Al-Quran ini, dan walau pun sebelumnya
engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui. (Yusuf
[12]:4).
Sebagaimana
telah dijelaskan pada Bab mengenai ayat
ini, yang menjadi sebab mengapa riwayat Nabi Yusuf a.s. diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. begitu rinci ialah,
karena riwayat itu mengandung banyak sekali isyarat berupa kabar gaib
(nubuwatan) mengenai kehidupan beliau saw. sendiri. Seluruh riwayat itu
seolah-olah akan terulang kembali dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dan dalam kehidupan
sanak-saudara beliau, kaum Quraisy, yang dalam Surah Yusuf diperagakan oleh
saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin.
Setelah secara rinci menjelaskan kisah Nabi Yusuf
a.s. dengan saudara-saudara tua beliau
mulai ayat 8 sampai dengan ayat 102 sebelum ini, selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami
wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka
telah bersepakat mengenai urusan mereka
dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).
Ayat ini berarti bahwa riwayat Nabi Yusuf
a.s. a.s. itu bukan hanya
kisah semata-mata. Riwayat itu mengandung nubuatan agung mengenai hari depan Nabi
Besar Muhammad saw., khususnya setelah beliau saw. hijrah dari Makkah ke
Madinah akibat makar buruk yang dirancang oleh para pemimpin
kaum Quraisy Makkah pimpinan Abu Jahal.
Dengan demikian kata pengganti “mereka”
dalam ayat tersebut menunjuk kepada musuh-musuh
Nabi Besar Muhammad saw., yang karena
kedengkian mereka terhadap beliau saw. – sebagaimana kedengkian
saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. terhadap Nabi Yusuf a.s. – telah
melancarkan suatu makar buruk,
yakni upaya melakukan pembunuhan
terhadap Nabi Besar Muhammad saw., sehingga dengan terbunuhnya beliau saw. – na’udzubillaahi
min dzaalik – mereka beranggapan
bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. pun akan
kembali bergabung dengan mereka.
Namun
dalam kenyataannya harapan mereka tersebut sia-sia belaka karena sebagaimana
halnya Nabi Yusuf a.s. telah diselamatkan oleh Allah Swt. dari makar buruk
saudara-saudara tua beliau dan beliau bahkan memperoleh kemuliaan di kerajaan
Mesir, demikian pula halnya yang terjadi
dengan Nabi Besar Muhammad saw. setelah melakukan hijrah ke Madinah akibat
makar-buruk yang dilakukan oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Mengenai hal itu
Allah Swt. berfirman:
وَ
اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap
engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka
merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar tandingan, dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal
[8]:31).
Ayat
ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun
Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika mereka melihat bahwa semua
usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru – yakni agama
(ajaran) Islam -- gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu
meninggalkan Makkah telah hijrah
ke Madinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga
kota pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun
Nadwah untuk membuat program ke arah usaha terakhir guna menghabisi
Islam.
Sesudah
diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah
sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak
menyergap Nabi Besar Muhammad saw. lalu
membunuh beliau. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt., tanpa setahu orang Nabi
Besar Muhammad saw. meninggalkan
rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau
saw. untuk beberapa lama berlindung di Gua Tsur bersama-sama Hadhrat Abubakar
a.s., sahabat beliau yang setia, guna menghindari penangkapan dari para pemburu beliau saw.
yang telah diiming-imingi hadiah besar bagi siapa yang mampu menangkap
beliau saw. – baik dalam keadaan hidup
mau pun mati -- dan akhirnya setelah
mengalami berbagai peristiwa yang sangat menegangkan di perjalanan, berkat karunia Allah Swt. akhirnya
Nabi Besar Muhammad saw. serta
Abu Bakar Shiddiq r.a. sampai di Medinah dengan selamat.
Berikut
adalah salah satu peristiwa yang sangat menegangkan yang dialami oleh Nabi
Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a., ketika keduanya terpaksa harus
bersembunyi di gua Tsur – sebuah gua yang sangat sempit dan dangkal
serta penuh dengan binatang berbisa – firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ
اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka
sungguh Allah telah
menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan
ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah)
berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta
kita”, lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang
kamu tidak melihatnya, dan Dia
menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah
Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Taubah
[9]:40).
Kata
pengganti nama hii (nya) dalam
anak kalimat “ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada Abu Bakar Shiidiq r.a., karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya. Sedangkan kata pengganti “nya”
dalam anak kalimat “menolongnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada
Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara
berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim
dalam bahasa Arab.
Yang dimaksud oleh ayat ini ialah peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. saw.
dari Makkah ke Madinah ketika beliau didampingi oleh Abu Bakar Shiddiq r.a. berlindung di sebuah gua yang disebut
Tsur, sebuah gua sempit dan dan dangkal serta
menjadi sarang binatang berbisa,
khususnya kalajengking padang pasir yang sangat berbisa.
Diceritakan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. terpaksa harus segera
mencari tempat persembunyian karena
kegelapan malam sudah mulai diganti
dengan datangnya siang hari, sehingga tidak
memungkinkan lagi bagi keduanya untuk meneruskan perjalanan menuju
Madinah karena pasti akan terkejar oleh para pemburu mereka dari Makkah, yang juga telah melibatkan pencari
jejak yang mahir.
Dalam
upaya menyembunyikan diri dari
pengejaran mereka, lalu keduanya bersembunyi di gua Tsur – sebuah tempat yang
sangat tidak layak untuk dipakai bersembunyi, karena selain menjadi sarang binatang berbisa, juga guanya sangat sempit dan dangkal. Itulah
sebabnya ketika rombongan pencari jejak
dan para pemburu Nabi Besar Muhammad saw. telah sampai di dekat mulut
gua Tsur keduanya melihat kaki mereka yang, sehingga hal tersebut sangat
menggelisahkan hati Abu Bakar Shiddiq r.a., karena kalau saja mereka itu mau
melihat kebagian bawah kaki mereka maka
pasti keduanya akan terlihat oleh para pemburu yang harus darah
tersebut.
Ada
pun yang membuat para pemburu dari Makkah – yang dipandu oleh pencari jejak
yang sangat mahir – tersebut tidak menaruh kecurigaan terhadap gua yang ada di hadapan mereka, pertama adalah:
(1) Mulut
gua tersebut telah tertutup oleh
jaringan sarang laba-laba, sehingga mereka piker kalau ada orang yang masuk gua
tersebut maka pasti sarang laba-laba tersebut rusak.
(2) Di depan mulut gua
tersebut terdapat burung yang sedang
mengerami telornya, sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak ada orang
yang masuk ke dalam gua tersebut.
Itulahlah sebabnya
ketika pencari jejak yang mahir tersebut mendapati jejak-jejak kedua pelarian
dari Makkah tersebut berhenti di depan mulut gua, ia berkata bahwa
buruan yang mereka cari itu hanya ada 2 kemungkinan, yaitu (1) keduanya
berada di dalam gua; atau keduanya naik ke langit.
Karena mereka hanya
mengandalkan analisa secara akal (logika)
saja, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan gua Tsur tersebut, sehingga
dengan karunia dan pertolongan khusus Allah Nabi Besar Muhammad
saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. selamat dari para pemburu yang haus darah
tersebut..
Jadi, itulah keunggulan makar
tandingan Allah Swt. berikutnya setelah Dia menyelamatkan Nabi Besar
Muhammad saw. dari kepungan ketat
orang-orang yang akan melakukan penyerbuan ke dalam rumah beliau saw.,
sehingga beliau saw. bersama dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. pada malam itu juga
dapat meninggalkan Makkah menuju ke Madinah.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar