بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXIX
Tentang
Mereka yang "Buta Mata Ruhaninya"
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ
جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ
﴿۵۶﴾
Dan, ingatlah ketika kamu berkata:
“Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai
engkau hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”,
lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan. (Al-Baqarah [2]:56).
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan
mengenai para penentang rasul Allah dari kalangan umat manusia yakni golongan jin dan golongan ins, firman-Nya:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا شَہِدۡنَا عَلٰۤی اَنۡفُسِنَا وَ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿۱۳۱﴾ ذٰلِکَ اَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ رَّبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی بِظُلۡمٍ وَّ
اَہۡلُہَا غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۳۲﴾ وَ لِکُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوۡا ؕ وَ مَا
رَبُّکَ بِغَافِلٍ عَمَّا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia),
tidakkah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang menceriterakan
kepadamu Tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada
hari kamu ini?” Mereka berkata:
“Kami menjadi saksi atas kekafiran diri kami sendiri.” Tetapi
kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi
atas diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang
kafir. Yang demikian itu karena Tuhan engkau tidak pernah membinasakan
negeri-negeri secara zalim
padahal penduduknya dalam keadaan lengah. Dan bagi setiap orang ada derajat-derajat
menurut apa yang telah mereka kerjakan
dan Tuhan engkau tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Al-An’aam
[6]:131-133).
Azab Ilahi Turun Setelah Rasul Allah
Didustakan dan Ditentang
Karena Nabi Besar Muhammad saw. dibangkitkan untuk seluruh umat
manusia – baik mereka itu golongan jin mau pun golongan ins
-- maka kata al-qura (negeri-negeri) sehubungan dengan diri beliau saw.,
tentu berlaku untuk seluruh dunia. Dan Allah Swt. tidak pernah menurunkan azab yang
bersifat umum sebelum Dia terlebih dahulu memperingatkan
umat-manusia mengenai azab yang sedang mengancam dengan membangkitkan
seorang Pemberi Peringatan (QS.11:118; QS.17:16); QS.20:135; QS.26:209;
QS.28:60). Azab yang disebut dalam ayat tersebut ialah azab yang bersifat umum
seperti: gempa bumi, peperangan yang membinasakan, wabah, dan sebagainya yang
melanda seluruh kaum, sebagaimana yang terjadi di Akhir Zaman ini.
Jadi,
bagi orang-orang yang berakal keberadaan
berbagai bentuk azab Ilahi yang saat ini sedang melanda seluruh
dunia – tanpa membeda-bedakan bangsa
dan agama yang mereka peluk
-- kenyataan tersebut cukup sebagai dalil
yang tak terbantahkan untuk mengambil kesimpulan bahwa pasti Allah Swt.
di Akhir Zaman initelah mengutus seorang Rasul Allah sebagai pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan.
Kenapa
demikian? Sebab sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa sudah merupakan SunnatulLah bahwa Allah Swt. tidak pernah menurunkan azab yang
bersifat umum sebelum Dia terlebih dahulu memperingatkan
umat-manusia mengenai azab yang sedang mengancam dengan membangkitkan
seorang Pemberi Peringatan (QS.11:118; QS.17:16); QS.20:135; QS.26:209;
QS.28:60), karena jika tidak maka
manusia mempunyai alasan (helah) untuk memprotes Allah Swt., firman-Nya:
وَ
قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿۱۳۴﴾ وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ
لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ
نَخۡزٰی ﴿۱۳۵﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ
فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ
اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ
مَنِ اہۡتَدٰی ﴿۱۳۶﴾٪
Dan
mereka berkata: "Mengapakah ia tidak mendatangkan kepada kami
suatu Tanda dari Tuhan-nya?" Bukankah telah datang kepada mereka
bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab-kitab)
terdahulu? Dan seandainya Kami
membinasakan mereka dengan azab sebelum ini
niscaya mereka akan berkata: "Ya Tuhan kami, mengapakah Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang
rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan
dihinakan?" Katakanlah:
"Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun tunggulah, lalu segera kamu akan
mengetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang
mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thaa Haa
[20]:134-135).
Buta Mata
Ruhani
Tanda-tanda yang nyata
dari Allah Swt. tersebut masalahnya adalah bukan apakah sudah datang atau pun belum
datang, tetapi masalahnya terletak pada apakah mata ruhani mereka itu melihat
ataukah buta? Sebab sebab bagaimana pun banyaknya serta jelasnya
Tanda-tanda yang telah terjadi di
hadapan para penentang rasul Allah tersebut semuanya itu akan sia-sia saja, karena bagi orang-orang yang buta,
baik malam hari maupun siang hari
sama-sama gelap, sekali pun
matahari sedang memancarkan cahayanya yang terang
benderang. Benarlah firman-Nya:
وَ
لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ
قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا
لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ
الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳﴾
وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴﴾
Dan seandainya
pun Kami benar-benar menurunkan
malaikat-malaikat kepada mereka, orang-orang yang telah mati berbicara
dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka, mereka sekali-kali
tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi
kebanyakan mereka berlaku jahil. Dan dengan cara demikian Kami telah
menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara
manusia dan jin, sebagian
mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk
mengelabui, dan jika Tuhan engkau menghendaki mereka tidak akan
mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,
dan
supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung
kepada bisikan itu, mereka menyukainya dan supaya mereka mengusahakan
apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’aam
[6]:112-114).
Berikut beberapa firman Allah Swt. mengenai kebutaan mata
ruhani yang terjadi di kalangan Bani Israil berkenaan dengan
kedudukan Nabi Musa a.s. sebagai rasul Allah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ
جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ
﴿۵۶﴾
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak
akan pernah mempercayai engkau hingga
kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu
disambar petir sedangkan kamu menyaksikan. (Al-Baqarah [2]:56). Lihat pula
QS.4:154.
Jadi, kalau orang-orang
kafir dari kalangan Bani Israil atau Ahlul Kitab mendustakan pendakwaan Nabi Besar
Muhammad saw. – sebagai “nabi yang seperti Musa” (Ulangan
18:18-19; QS.46:11) atau sebagai “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius
23:37-39); atau “Roh Kebenaran” (Yahya 16:12-13 -- adalah sangat wajar, sebab terhadap Nabi
Musa a.s. sendiri pun mereka selalu
meragukan pendakwaannya sebagai rasul
Allah kepada mereka, walau pun berbagai Tanda Ilahi telah mereka
saksikan dengan mata kepala mereka
sendiri, baik ketika mereka masih berada di Mesir maupun setelah mereka keluar
dari Mesir, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُکَ
اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ فَقَدۡ
سَاَلُوۡا مُوۡسٰۤی اَکۡبَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَقَالُوۡۤا اَرِنَا اللّٰہَ جَہۡرَۃً
فَاَخَذَتۡہُمُ الصّٰعِقَۃُ بِظُلۡمِہِمۡ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الۡعِجۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ
مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَعَفَوۡنَا عَنۡ ذٰلِکَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی
سُلۡطٰنًا مُّبِیۡنًا ﴿۱۵۴﴾
Ahlul Kitab meminta kepada engkau supaya engkau
menurunkan atas mereka sebuah Kitab dari langit, maka sungguh
mereka pun pernah meminta yang lebih besar dari itu kepada Musa,
mereka berkata: ”Perlihatkanlah Allah kepada kami secara zahir”, maka mereka
disergap oleh siksaan yang memusnahkan karena kezaliman mereka. Kemudian
mereka menjadikan patung anak sapi sebagai sembahan setelah
datang kepada me-reka Tanda-tanda nyata, tetapi Kami memaafkan hal itu, dan
Kami memberi Musa kemenangan yang nyata. (Al-Nisa [4]:154).
Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s.
sendiri pun pernah meminta hal yang sama
kepada Allah Swt., tetapi dalam kenyataannya jangankan melihat Allah Swt. secara
langsung, menyaksikan tajjali (penampakkan) keagungan-Nya ke atas gunung
pun secara kasyaf (penglihatan
ruhani) terbukti Nabi Musa a.s. menjadi pingsan
ketika menyaksikan gunung tersebur hancur-lebur karena tidak mampu menerima tajjali kekuasaan Allah Swt.
tersebut, firman-Nya:
وَ
لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ
رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ وَ لٰکِنِ
انۡظُرۡ اِلَی الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ
فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ
خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ
اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ
اِلَیۡکَ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۴۴﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Tuhan-nya
bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah
kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika
ia tetap ada pada tempat-nya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.”
Maka tatkala Tuhan-nya menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu
tatkala ia sadar kembali ia
berkata: “Mahasuci Engkau, aku taubat
kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-‘Araaf [7]:144).
Ayat
ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat
penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. dengan mata jasmaninya? Ayat itu
sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh
mata jasmani (QS.6:104).
Jangankan
melihat Allah Swt. . dengan
mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat
malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka
belaka. Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah
yang dapat kita saksikan, tetapi Allah Swt. sendiri tidak. Oleh karena itu tidak
dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s. dengan segala makrifat (pengetahuan
mendalam) mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan
mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi
Musa.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt. -- dan bukan menyaksikan Wujud-Nya. Tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan
beliau dari Midian ke Mesir (QS.28:30). Jadi
apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Tuhan-ku,
tampak-kanlah kepadaku supaya aku dapat
melihat Engkau?”
Nabi Musa a.s. Beriman
kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Permohonan
itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan
menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa
a.s. diberi janji bahwa
dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi
yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan
18:18-22).
Nubuatan
ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah
dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s. karena itu beliau dengan sendirinya sangat
berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli
yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu,
ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
Melalui
pengalaman ruhani tersebut Nabi Musa a.s. diberi tahu bahwa Tajalli ini berada
di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya, tajalli itu tidak akan dapat terjelma
pada hati beliau, tetapi Allah Swt. memilih gunung untuk
bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat
serta nampak seakan-akan ambruk,
dan Nabi Musa a.s. karena
dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
Dengan cara demikian beliau dibuat sadar bahwa
beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat
keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri
tempat Allah Swt. bertajalli sebagaimana dimohonkan
beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar
daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda
Nabi Muhammad saw.
Jadi
itulah makna ucapan Nabi Musa a.s. ketika sadar dari pingsannya: “Mahasuci
Engkau, aku taubat kepada Engkau
dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya
di masa ini.” Yakni Nabi Musa a.s.
menyatakan telah beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., walau pun keberadaan
Nabi Besar Muhammad saw. baru ada 2000 tahun setelah peristiwa itu.
Betapa
pentingna manusia memiliki mata ruhani yang melihat, sebab tanpa sarana penglihatan ruhani tersebut bagaimana pun jelasnya Tanda-tanda
Ilahi atau mukjizat yang diperlihatkan seorang Rasul Allah maka hal
tersebut tetap saja akan mereka dustakan, dan mereka baru akan beriman setelah
seperti keadaan yang menimpa Fir’aun
dan lasykarnya ketika akan mati tenggelam di laut: “
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۱﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿۹۲﴾ فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪۹۳﴾
Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar
mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang
tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan
kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk
orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” Apa, sekarang baru beriman!? Padahal
engkau telah membangkang sebelum ini,
dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Maka
pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan engkau, supaya engkau menjadi
suatu Tanda bagi orang-orang
sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan manusia
benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda
Kami.” (Yunus [10]:91-93).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar