Senin, 20 Februari 2012

Mereka yang "Buta Mata Ruhaninya"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXIX
 
Tentang

        Mereka yang "Buta Mata Ruhaninya"
    
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿۵۶
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai  engkau hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan.  (Al-Baqarah [2]:56).

Dalam bagian  akhir Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai para penentang rasul Allah dari kalangan umat  manusia yakni golongan  jin dan  golongan ins, firman-Nya:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ  یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ  اٰیٰتِیۡ  وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ  لِقَآءَ  یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا شَہِدۡنَا عَلٰۤی اَنۡفُسِنَا وَ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا  وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿۱۳۱  ذٰلِکَ اَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ رَّبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی بِظُلۡمٍ   وَّ  اَہۡلُہَا غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۳۲  وَ لِکُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوۡا ؕ وَ مَا رَبُّکَ بِغَافِلٍ عَمَّا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۳
Hai golongan jin dan ins (manusia), tidakkah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang menceriterakan kepadamu Tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada hari kamu ini?” Mereka berkata:  “Kami menjadi saksi atas kekafiran diri kami sendiri.” Tetapi kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Yang demikian itu karena Tuhan engkau tidak pernah membinasakan negeri-negeri secara zalim  padahal penduduknya dalam keadaan lengah.  Dan bagi setiap orang ada derajat-derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan  dan Tuhan engkau tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Al-An’aam [6]:131-133).

Azab Ilahi Turun Setelah Rasul Allah Didustakan dan Ditentang

   Karena Nabi Besar Muhammad saw.  dibangkitkan untuk seluruh umat manusia – baik mereka itu golongan jin mau pun golongan ins -- maka kata al-qura (negeri-negeri) sehubungan dengan diri beliau saw., tentu berlaku untuk seluruh dunia. Dan Allah Swt.   tidak pernah menurunkan azab yang bersifat umum sebelum Dia terlebih dahulu memperingatkan umat-manusia mengenai azab yang sedang mengancam dengan membangkitkan seorang Pemberi Peringatan (QS.11:118; QS.17:16); QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60). Azab yang disebut dalam ayat tersebut ialah azab yang bersifat umum seperti: gempa bumi, peperangan yang membinasakan, wabah, dan sebagainya yang melanda seluruh kaum, sebagaimana yang terjadi di Akhir Zaman ini.
Jadi, bagi orang-orang yang berakal keberadaan  berbagai bentuk azab Ilahi yang saat ini sedang melanda  seluruh  dunia –   tanpa membeda-bedakan bangsa dan agama  yang mereka peluk --  kenyataan tersebut cukup sebagai dalil yang tak terbantahkan untuk mengambil kesimpulan bahwa pasti Allah Swt. di Akhir Zaman initelah mengutus seorang Rasul Allah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
Kenapa demikian? Sebab sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya  bahwa sudah merupakan SunnatulLah bahwa  Allah Swt.   tidak pernah menurunkan azab yang bersifat umum sebelum Dia terlebih dahulu memperingatkan umat-manusia mengenai azab yang sedang mengancam dengan membangkitkan seorang Pemberi Peringatan (QS.11:118; QS.17:16); QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60), karena jika tidak maka  manusia mempunyai alasan (helah) untuk memprotes Allah Swt., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ   الۡاُوۡلٰی ﴿۱۳۴   وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  ﴿۱۳۵  قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی ﴿۱۳۶﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia tidak mendatang­kan kepada kami suatu Tanda dari Tuhan-nya?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab-kitab) terdahulu?  Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum ini  niscaya mereka akan berkata: "Ya Tuhan kami, me­ngapakah   Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?"    Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun  tunggulah, lalu segera kamu akan mengetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak. (Thaa Haa [20]:134-135).

Buta Mata Ruhani

       Tanda-tanda yang nyata dari Allah Swt. tersebut masalahnya adalah bukan  apakah sudah datang atau pun belum datang, tetapi masalahnya terletak pada  apakah mata ruhani mereka itu melihat ataukah buta? Sebab sebab bagaimana pun banyaknya serta jelasnya  Tanda-tanda yang telah terjadi di hadapan para penentang rasul Allah tersebut  semuanya itu akan sia-sia saja,  karena bagi orang-orang yang buta, baik malam hari maupun siang hari  sama-sama gelap, sekali pun  matahari sedang memancarkan cahayanya yang terang benderang. Benarlah firman-Nya:
 وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳  وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴
Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka,   orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka  berlaku jahil.    Dan  dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara manusia dan jin,  sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, dan jika Tuhan engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,   dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka menyukainya dan supaya mereka mengusahakan apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’aam [6]:112-114).
        Berikut beberapa  firman Allah Swt. mengenai kebutaan mata ruhani yang terjadi di kalangan Bani Israil berkenaan dengan kedudukan Nabi Musa a.s. sebagai rasul Allah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿۵۶
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai  engkau hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan.  (Al-Baqarah [2]:56). Lihat pula QS.4:154.
     Jadi, kalau orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil atau Ahlul Kitab  mendustakan pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19; QS.46:11) atau sebagai “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39); atau “Roh Kebenaran” (Yahya 16:12-13  -- adalah sangat wajar, sebab terhadap Nabi Musa a.s. sendiri pun  mereka selalu meragukan pendakwaannya  sebagai rasul Allah kepada mereka, walau pun berbagai Tanda Ilahi telah mereka saksikan  dengan mata kepala mereka sendiri, baik ketika mereka masih berada di Mesir maupun setelah mereka keluar dari Mesir, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُکَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ فَقَدۡ سَاَلُوۡا مُوۡسٰۤی اَکۡبَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَقَالُوۡۤا اَرِنَا اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡہُمُ الصّٰعِقَۃُ بِظُلۡمِہِمۡ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الۡعِجۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَعَفَوۡنَا عَنۡ ذٰلِکَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی سُلۡطٰنًا مُّبِیۡنًا ﴿۱۵۴
Ahlul Kitab meminta kepada engkau supaya engkau menurunkan atas mereka sebuah Kitab dari langit, maka  sungguh  mereka pun pernah meminta yang lebih besar dari itu kepada Musa, mereka berkata: ”Perlihatkanlah Allah kepada kami secara zahir”, maka mereka disergap oleh siksaan yang memusnahkan karena kezaliman mereka. Kemudian mereka menjadikan patung anak sapi sebagai sembahan setelah datang kepada me-reka Tanda-tanda nyata, tetapi Kami memaafkan hal itu, dan Kami memberi Musa kemenangan yang nyata. (Al-Nisa [4]:154).

Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.

      Nabi Musa a.s. sendiri  pun pernah meminta hal yang sama kepada Allah Swt., tetapi dalam kenyataannya jangankan melihat Allah Swt. secara langsung, menyaksikan tajjali (penampakkan) keagungan-Nya ke atas gunung pun secara kasyaf  (penglihatan ruhani)  terbukti Nabi Musa a.s. menjadi pingsan ketika menyaksikan gunung tersebur hancur-lebur  karena tidak mampu  menerima tajjali kekuasaan Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۴۴
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Tuhan-nya bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” Maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku taubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-‘Araaf  [7]:144).
      Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt.  dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104).
      Jangankan melihat Allah Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka. Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi Allah Swt.  sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.   dengan segala makrifat (pengetahuan mendalam) mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
       Nabi Musa.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah Swt.  --   dan bukan menyaksikan Wujud-Nya. Tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (QS.28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Tuhan-ku, tampak-kanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”

Nabi Musa a.s. Beriman  kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

       Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.  diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
      Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s. karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah  Swt.  yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu, ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
        Melalui pengalaman ruhani tersebut Nabi Musa a.s.  diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah Swt. memilih gunung untuk bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s.  karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
      Dengan cara demikian beliau dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat  Allah Swt.  bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Muhammad saw. 
     Jadi itulah makna ucapan Nabi Musa a.s. ketika sadar dari pingsannya: “Mahasuci Engkau, aku taubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” Yakni  Nabi Musa a.s. menyatakan telah beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., walau pun keberadaan Nabi Besar Muhammad saw. baru ada 2000 tahun setelah peristiwa itu.
        Betapa pentingna manusia memiliki mata ruhani yang melihat, sebab tanpa  sarana penglihatan ruhani  tersebut bagaimana pun jelasnya Tanda-tanda Ilahi atau mukjizat yang  diperlihatkan seorang Rasul Allah maka hal tersebut tetap saja akan mereka dustakan, dan mereka baru akan beriman setelah seperti keadaan yang menimpa  Fir’aun  dan lasykarnya  ketika akan mati tenggelam di laut: “
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۱   آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿۹۲   فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪۹۳
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.     Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan   manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar