بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXV
Tentang
Kehinaan demi Kehinaan yang Membuntuti
Saudara-saudara Tua Nabi Nabi Yusuf a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
فَلَمَّا
اسۡتَیۡـَٔسُوۡا مِنۡہُ خَلَصُوۡا نَجِیًّا ؕ قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ یُوۡسُفَ ۚ فَلَنۡ اَبۡرَحَ الۡاَرۡضَ حَتّٰی یَاۡذَنَ لِیۡۤ اَبِیۡۤ اَوۡ یَحۡکُمَ اللّٰہُ لِیۡ ۚ وَ ہُوَ خَیۡرُ الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۸۱﴾
اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَ
مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿۸۲﴾
Maka tatkala mereka telah putus harapan mengenai dia, mereka
memisahkan diri untuk berunding secara sembunyi-sembunyi. Berkata yang tertua dari mereka:
“Tidakkah kamu mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian yang teguh
dari kamu atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu telah mengabaikan
tugasmu berkenaan dengan Yusuf? Maka aku sama sekali tidak akan
meninggalkan negeri ini sampai ayahku
memberikan izin kepadaku atau Allāh menetapkan keputusan bagiku, dan Dia-lah
Hakim yang terbaik dari semua hakim. Kembalilah
kamu kepada ayahmu lalu katakanlah:
“Ya ayah kami, sesungguhnya anak engkau itu telah mencuri, dan kami sama
sekali tidak menyatakan kecuali apa
yang telah kami ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas hal-hal yang
gaib, (Yusuf [12]:81-82).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penolakan Nabi Yusuf
a.s. untuk mengambil salah seorang dari kakak-kakak beliau sebagai pengganti
Benyamin, yang di dalam tempat perbekalannya terdapat piala (takaran) milik raja, firman-Nya:
قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ اَنۡ نَّاۡخُذَ اِلَّا مَنۡ وَّجَدۡنَا مَتَاعَنَا
عِنۡدَہٗۤ ۙ اِنَّاۤ اِذًا لَّظٰلِمُوۡنَ ﴿٪۸۰﴾
Ia, Yusuf, menjawab: “Kami berlindung kepada Allah
dari menahan orang lain kecuali siapa yang padanya telah kami
mendapatkan barang kami, sesungguhnya jika kami berbuat demikian, sungguh
kami orang zalim” (Yusuf [12]:80).
فَلَمَّا
اسۡتَیۡـَٔسُوۡا مِنۡہُ خَلَصُوۡا نَجِیًّا ؕ قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ یُوۡسُفَ ۚ فَلَنۡ اَبۡرَحَ الۡاَرۡضَ حَتّٰی یَاۡذَنَ لِیۡۤ اَبِیۡۤ اَوۡ یَحۡکُمَ اللّٰہُ لِیۡ ۚ وَ ہُوَ خَیۡرُ الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۸۱﴾
اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَ
مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿۸۲﴾
Maka tatkala mereka telah putus harapan mengenai dia (Yusuf),
mereka memisahkan diri untuk berunding secara sembunyi-sembunyi. Berkata yang terbesar dari
mereka: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian
yang teguh dari kamu atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu
telah mengabaikan tugasmu berkenaan dengan Yusuf? Maka aku sama sekali
tidak akan meninggalkan negeri ini sampai
ayahku memberikan izin kepadaku atau Allah menetapkan keputusan
bagiku, dan Dia-lah Hakim yang terbaik dari semua hakim. Kembalilah kamu kepada ayahmu lalu
katakanlah: “Ya ayah kami, sesungguhnya
anak engkau itu telah mencuri, dan kami sama sekali tidak menyatakan kecuali apa yang telah kami
ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas hal-hal yang gaib,
(Yusuf [12]:81-82).
Najiy berarti: (1) rahasia; (2)
orang yang kepadanya dipercayakan suatu rahasia, (3) orang yang
berbincang dengan orang lain secara sembunyi, (4) perbuatan berunding
secara sembunyi-sembunyi (Aqrab-al-Mawarid).
Kehinaan di atas kehinaan
Menurut
Bible, Yehuda-lah, keempat di antara kakak beradik itu, dan bukan Rubin,
yang tertua di antara mereka, yang tidak mau pulang lagi kepada ayahnya tanpa Benyamin.
Kata yang telah dipakai oleh Al-Quran ialah kabiir, yang berarti “besar”
atau “lebih tua” dan bukan akbar, yang berarti “tertua”.
Yehuda,
putra Nabi Ya’qub a.s. yang
keempat, memang sesungguhnya salah seorang putra yang lebih besar atau lebih
tua dari Nabi Yusuf a.s.. Tambahan pula, kabir itu bukan hanya berarti
“besar” atau “lebih tua”, tetapi berarti pula “pemimpin” dan “besar menurut
anggapan orang, pangkat, dan kemuliaan”, dan dalam arti inilah kata itu telah
dipakai di sini dan dengan demikian menunjuk kepada Yehuda dan bukan
kepada Rubin, Yehuda itu lebih terkemuka dari Rubin dalam pandangan Nabi
Ya’qub a.s. (Kejadian
43 : 8-10).
Pelajaran
yang dapat diambil dari perkataan Yehuda tersebut adalah, bahwa pada
peristiwa Nabi Yusuf a.s. mereka telah melaporkan peristiwa dusta bahwa Nabi Yusuf a.s. telah menjadi mangsa serigala, namun untuk menutupi
kedustaannya mereka sendiri yang mengatakan kepada ayah mereka, Nabi Ya’qub
a.s.: “Tetapi engkau tidak akan
mempercayai kami, walau pun kami berkata
benar” (QS.12:17-18), tetapi Nabi Ya’qub a.s. tidak mempercayai apa yang mereka laporkan tentang Nabi Yusuf a.s. tersebut,
walau pun mereka untuk mendukung laporannya
mereka membawa bukti palsu
berupa pakaian Nabi Yusuf a.s. yang dilumuri darah domba (QS.12:19).
Dalam kasus Benyamin, mereka melaporkan
peristiwa yang sebenarnya kepada Nabi Ya’qub a.s. tetapi mereka tidak bisa
menghindarkan diri mereka dari mengkhianati
janji mereka kepada ayah
mereka tentang Benyamin -- bahwa mereka akan menjaganya hingga ia pulang lagi bersama-sama mereka (QS.12:66-68)
– sebagaimana mereka telah mengkhianati
janji mereka tentang Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ
اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ
اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ
قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ
یُوۡسُفَ ۚ
Berkata yang terbesar dari mereka: “Tidakkah kamu
mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian yang teguh dari kamu
atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu telah mengabaikan
tugasmu berkenaan dengan Yusuf? (Yusuf
[12]:81).
Demikianlah,
sekali mereka melakukan suatu kedustaan dan pengkhianatan kepada
ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. maka mereka akan terus menerus mengalami kehinaan
demi kehinaan, berbeda dengan Nabi Yusuf a.s. yang terus menerus
mengalami kemuliaan demi kemuliaan. Kecuali jika mereka benar-benar bertaubat kepada
Allah Swt.. maka kehinaan
tersebut akan terus menerus menimpa mereka.
Untuk
memperkuat bahwa apa yang mereka laporkan adalah benar, mereka merujuk kepada “warga kota” (qaryah)
sebagai saksi yang menguatkan kebenaran apa yang mereka laporkan, namun
tetap saja hal tersebut tidak mampu mengubah keadaan hati Nabi ya’qub a.s. terhadap
mereka, firman-Nya:
وَ
سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ الَّتِیۡ کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۸۳﴾
قَالَ بَلۡ
سَوَّلَتۡ لَکُمۡ اَنۡفُسُکُمۡ اَمۡرًا ؕ فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۸۴﴾
Dan tanyakanlah kepada warga kota yang kami berada
di dalamnya dan kepada kafilah yang bersamanya kami datang,
dan sesungguhnya kami pasti
benar” Ia, (Ya’qub), menjawab:
“Bahkan nafsumu telah memperindah
perbuatan kamu yang buruk,
maka bagiku kesabaran yang
baik, mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:83-84).
Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mengalami Kebutaan
Dalam
ayat ini yang dimaksud dengan qaryah (kota) itu sesungguhnya ahl
al-qaryah (warga kota) dan ‘iir (kafilah) itu ashhab al-’iir
(anggota-anggota kafilah). Kata-kata ahl dan ashhab telah
ditinggalkan untuk memberikan tekanan kepada pernyataan yang disebut dalam ayat
ini.
Dengan
ditahannya Benyamin di Mesir maka hal tersebut
semakin menambah keyakinan Nabi
Yaqub a.s., bahwa Nabi Yusuf a.s. ada di
Mesir dan -- sesuai dengan mimpi yang
dialaminya – telah mendapat kemuliaan duniawi di Mesir, karena itu Nabi Ya’qub a.s. percaya
bahwa keberadaan Benyamin di Mesir dalam keadaan selamat sejahtera:
قَالَ بَلۡ
سَوَّلَتۡ لَکُمۡ اَنۡفُسُکُمۡ اَمۡرًا ؕ فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۸۴﴾
“...mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku, sesungguhnya
Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:84).
Ada pun yang dimaksud
dengan “mereka semua” adalah
Nabi Yusuf a.s., Benyamin, dan
Yehuda. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ تَوَلّٰی عَنۡہُمۡ وَ قَالَ یٰۤاَسَفٰی عَلٰی یُوۡسُفَ وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ ﴿۸۵﴾
Dan ia (Ya'qub)
berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!”
Lalu berlinanglah kedua matanya akibat dukacita,
karena ia seorang yang menahan kesedihan. (Yusuf [12]:85).
Bayyadha al-siqaa berarti: ia
mengisi kantong kulit itu dengan air atau susu. Ungkapan abyadhdhat ‘ainaa-hu
biasa dipergunakan mengenai seseorang yang ditimpa kesedihan dan matanya
digenangi oleh air mata. Jadi ayat itu hanya berarti bahwa dunia menjadi
gelap bagi Nabi Ya’qub a.s.. dan matanya menjadi tergenang air mata karena
sedih (Lexicon Lane, Imam Razi & Bihar-ul-Anwar).
Jadi, tidak benar bahwa Nabi Ya’qub a.s.
karena selama bertahun-tahun terus menerus
menangis maka akibatnya mata
beliau menjadi buta, yakni mereka mengartikan kalimat wa- byadhdhat ‘ainaahu
– dan matanya menjadi putih”, yang mereka artikan bahwa mata Nabi Ya’qub a.s. menjadi , dan penglihatan beliau kembali berfungsi setelah baju
yang dulu dipakai Nabi Yusuf a.s. -- ketika beliau berangkat bersama
kakak-kakaknya -- di letakkan di hadapan beliau (QS.12:94-97). Masalah ini akan
dibahas lebih jauh dalam Bab sehubungan
ayat tersebut.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا تَذۡکُرُ یُوۡسُفَ حَتّٰی تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿۸۶﴾
قَالَ اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ مِنَ
اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۸۷﴾
Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut
Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk
menjadi orang-orang yang binasa!” Ia (Yaqub) menjawab:
“Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya
kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak
ketahui.” (Yusuf
[12]:86-87).
Perhatikanlah, betapa kedengkian
mereka kepada Nabi Yusuf a.s. masih
terus berlangsung, sampai-sampai mereka mengucapkan perkataan yang sangat tidak
sopan terhadap ayah mereka.
Haradh berarti: orang yang cacat tubuh
dan otaknya, sakit atau berpenyakit; menderita kegelisahan yang sudah lama
memakan pikiran dan penyakit yang menahun; lesu dan letih dan mendekati ajal;
menjadi kurus kering disebabkan oleh kesedihan atau oleh cinta yang
berlebih-lebihan, dan sebagainya (Lexicon Lane).
Ayat
87 mengandung arti, bahwa Nabi Ya’qub a.s. telah
mendapat kabar dari Allah Swt., bahwa Nabi Yusuf a.s. , Benyamin, dan
Yehuda masih hidup.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar