Minggu, 05 Februari 2012

Kehinaan demi Kehinaan yang Membuntuti Saudara-saudara Tua Nabi Yusuf a.s.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXV

Tentang
 

       Kehinaan demi Kehinaan yang Membuntuti 
      Saudara-saudara Tua Nabi  Nabi Yusuf a.s. 

 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

فَلَمَّا اسۡتَیۡـَٔسُوۡا مِنۡہُ خَلَصُوۡا نَجِیًّا ؕ قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ  مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ یُوۡسُفَ ۚ فَلَنۡ اَبۡرَحَ الۡاَرۡضَ حَتّٰی یَاۡذَنَ لِیۡۤ  اَبِیۡۤ  اَوۡ یَحۡکُمَ اللّٰہُ  لِیۡ ۚ وَ ہُوَ  خَیۡرُ  الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۸۱   اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ  فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ  اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَ مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿۸۲
Maka tatkala mereka telah putus harapan mengenai dia, mereka memisahkan diri untuk berunding secara sembunyi-sembunyi.  Berkata yang tertua dari mereka: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian yang teguh dari kamu atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu telah mengabaikan tugasmu berkenaan dengan Yusuf? Maka aku sama sekali tidak akan meninggalkan  negeri ini sampai ayahku memberikan izin kepadaku atau Allāh menetapkan keputusan bagiku, dan Dia-lah Hakim yang terbaik dari semua hakim.  Kembalilah kamu kepada ayahmu  lalu  katakanlah:  “Ya ayah kami, sesungguhnya anak engkau itu telah mencuri, dan kami sama sekali tidak   menyatakan kecuali apa yang telah kami ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas hal-hal yang gaib, (Yusuf [12]:81-82).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penolakan Nabi Yusuf a.s. untuk mengambil salah seorang dari kakak-kakak beliau sebagai pengganti Benyamin, yang di dalam tempat perbekalannya terdapat  piala (takaran) milik raja, firman-Nya:
 قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ اَنۡ نَّاۡخُذَ اِلَّا مَنۡ وَّجَدۡنَا مَتَاعَنَا عِنۡدَہٗۤ ۙ اِنَّاۤ اِذًا لَّظٰلِمُوۡنَ ﴿٪۸۰
Ia, Yusuf, menjawab: “Kami berlindung kepada Allah dari menahan orang lain kecuali siapa yang padanya telah kami mendapatkan barang kami, sesungguhnya jika kami berbuat demikian, sungguh kami orang zalim” (Yusuf [12]:80).
فَلَمَّا اسۡتَیۡـَٔسُوۡا مِنۡہُ خَلَصُوۡا نَجِیًّا ؕ قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ  مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ یُوۡسُفَ ۚ فَلَنۡ اَبۡرَحَ الۡاَرۡضَ حَتّٰی یَاۡذَنَ لِیۡۤ  اَبِیۡۤ  اَوۡ یَحۡکُمَ اللّٰہُ  لِیۡ ۚ وَ ہُوَ  خَیۡرُ  الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۸۱   اِرۡجِعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡکُمۡ  فَقُوۡلُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ  اِنَّ ابۡنَکَ سَرَقَ ۚ وَ مَا شَہِدۡنَاۤ اِلَّا بِمَا عَلِمۡنَا وَ مَا کُنَّا لِلۡغَیۡبِ حٰفِظِیۡنَ ﴿۸۲
Maka tatkala mereka telah putus harapan mengenai dia (Yusuf), mereka memisahkan diri untuk berunding secara sembunyi-sembunyi.  Berkata yang terbesar dari mereka: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian yang teguh dari kamu atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu telah mengabaikan tugasmu berkenaan dengan Yusuf? Maka aku sama sekali tidak akan meninggalkan  negeri ini sampai ayahku memberikan izin kepadaku atau Allah menetapkan keputusan bagiku, dan Dia-lah Hakim yang terbaik dari semua hakim.  Kembalilah kamu kepada ayahmu  lalu  katakanlah:  “Ya ayah kami, sesungguhnya anak engkau itu telah mencuri, dan kami sama sekali tidak   menyatakan kecuali apa yang telah kami ketahui, dan kami tidak dapat menjadi penjaga atas hal-hal yang gaib, (Yusuf [12]:81-82).
      Najiy berarti: (1) rahasia; (2) orang yang kepadanya dipercayakan suatu rahasia, (3) orang yang berbincang dengan orang lain secara sembunyi, (4) perbuatan berunding secara sembunyi-sembunyi (Aqrab-al-Mawarid).

Kehinaan di atas kehinaan

      Menurut Bible, Yehuda-lah, keempat di antara kakak beradik itu, dan bukan Rubin, yang tertua di antara mereka, yang tidak mau pulang lagi kepada ayahnya tanpa Benyamin. Kata yang telah dipakai oleh Al-Quran ialah kabiir, yang berarti “besar” atau “lebih tua” dan bukan akbar, yang berarti “tertua”.
      Yehuda, putra Nabi Ya’qub a.s.  yang keempat, memang sesungguhnya salah seorang putra yang lebih besar atau lebih tua dari Nabi Yusuf a.s.. Tambahan pula, kabir itu bukan hanya berarti “besar” atau “lebih tua”, tetapi berarti pula “pemimpin” dan “besar menurut anggapan orang, pangkat, dan kemuliaan”, dan dalam arti inilah kata itu telah dipakai di sini dan dengan demikian menunjuk kepada Yehuda dan bukan kepada Rubin, Yehuda itu lebih terkemuka dari Rubin dalam pandangan Nabi Ya’qub a.s.   (Kejadian 43 : 8-10).
     Pelajaran yang dapat diambil dari perkataan Yehuda tersebut adalah, bahwa pada peristiwa Nabi Yusuf a.s. mereka telah melaporkan peristiwa dusta  bahwa Nabi Yusuf a.s. telah  menjadi mangsa serigala, namun untuk menutupi kedustaannya mereka sendiri yang mengatakan kepada ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s.: “Tetapi engkau  tidak akan mempercayai kami, walau pun kami berkata  benar” (QS.12:17-18), tetapi Nabi Ya’qub a.s. tidak mempercayai  apa yang mereka  laporkan tentang Nabi Yusuf a.s. tersebut, walau pun mereka untuk mendukung laporannya  mereka membawa bukti  palsu berupa pakaian Nabi Yusuf a.s. yang dilumuri darah domba (QS.12:19).
        Dalam kasus Benyamin, mereka melaporkan peristiwa yang sebenarnya kepada Nabi Ya’qub a.s. tetapi mereka tidak bisa menghindarkan diri mereka dari  mengkhianati  janji mereka kepada ayah mereka tentang Benyamin -- bahwa mereka akan menjaganya hingga ia  pulang lagi bersama-sama mereka (QS.12:66-68) – sebagaimana mereka telah  mengkhianati janji mereka tentang Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
قَالَ کَبِیۡرُہُمۡ اَلَمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اَبَاکُمۡ قَدۡ اَخَذَ عَلَیۡکُمۡ  مَّوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ وَ مِنۡ قَبۡلُ مَا فَرَّطۡتُّمۡ فِیۡ یُوۡسُفَ ۚ
Berkata yang terbesar dari mereka: “Tidakkah kamu mengetahui bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian yang teguh dari kamu atas nama Allah, dan bagaimana sebelum ini kamu telah mengabaikan tugasmu berkenaan dengan Yusuf?  (Yusuf [12]:81).
        Demikianlah, sekali mereka melakukan suatu kedustaan dan pengkhianatan kepada ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. maka mereka akan terus menerus mengalami kehinaan demi kehinaan, berbeda dengan Nabi Yusuf a.s. yang terus menerus mengalami kemuliaan demi kemuliaan. Kecuali jika  mereka benar-benar bertaubat kepada Allah Swt..  maka kehinaan tersebut akan terus menerus menimpa mereka.
       Untuk memperkuat bahwa apa yang mereka laporkan adalah benar,  mereka merujuk kepada “warga kota” (qaryah) sebagai saksi yang menguatkan kebenaran apa yang mereka laporkan, namun tetap saja hal tersebut tidak mampu mengubah keadaan hati Nabi ya’qub a.s. terhadap mereka, firman-Nya:
وَ سۡـَٔلِ الۡقَرۡیَۃَ  الَّتِیۡ  کُنَّا فِیۡہَا وَ الۡعِیۡرَ الَّتِیۡۤ  اَقۡبَلۡنَا فِیۡہَا ؕ وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۸۳  قَالَ  بَلۡ  سَوَّلَتۡ  لَکُمۡ  اَنۡفُسُکُمۡ  اَمۡرًا ؕ فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۸۴

Dan tanyakanlah kepada warga kota yang kami berada di dalamnya dan kepada kafilah yang bersamanya kami datang, dan sesungguhnya kami  pasti benar”   Ia, (Ya’qub), menjawab: “Bahkan nafsumu telah memperindah  perbuatan  kamu yang buruk, maka  bagiku kesabaran yang baik, mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:83-84).

Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mengalami Kebutaan

       Dalam ayat ini  yang dimaksud dengan  qaryah (kota) itu sesungguhnya ahl al-qaryah (warga kota) dan ‘iir (kafilah) itu ashhab al-’iir (anggota-anggota kafilah). Kata-kata ahl dan ashhab telah ditinggalkan untuk memberikan tekanan kepada pernyataan yang disebut dalam ayat ini.
        Dengan ditahannya Benyamin di Mesir maka hal tersebut  semakin menambah keyakinan  Nabi Yaqub a.s., bahwa Nabi Yusuf a.s.  ada di Mesir dan  -- sesuai dengan mimpi yang dialaminya – telah mendapat kemuliaan duniawi di  Mesir, karena itu Nabi Ya’qub a.s. percaya bahwa keberadaan Benyamin di Mesir dalam keadaan selamat sejahtera:
قَالَ  بَلۡ  سَوَّلَتۡ  لَکُمۡ  اَنۡفُسُکُمۡ  اَمۡرًا ؕ فَصَبۡرٌ جَمِیۡلٌ ؕ عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّاۡتِـیَنِیۡ بِہِمۡ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۸۴
“...mudah-mudahan Allah akan mendatangkan mereka itu semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:84).
       Ada pun yang dimaksud dengan “mereka semua” adalah   Nabi Yusuf a.s.,  Benyamin, dan Yehuda. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ تَوَلّٰی عَنۡہُمۡ  وَ قَالَ یٰۤاَسَفٰی عَلٰی یُوۡسُفَ وَ ابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ ﴿۸۵
Dan ia (Ya'qub)  berpaling dari mereka itu dan berkata: “Aduhai dukacitaku akan Yusuf!” Lalu berlinanglah kedua matanya akibat dukacita, karena ia seorang yang menahan kesedihan. (Yusuf [12]:85).
     Bayyadha al-siqaa berarti: ia mengisi kantong kulit itu dengan air atau susu. Ungkapan abyadhdhat ‘ainaa-hu biasa dipergunakan mengenai seseorang yang ditimpa kesedihan dan matanya digenangi oleh air mata. Jadi ayat itu hanya berarti bahwa dunia menjadi gelap bagi Nabi Ya’qub a.s..  dan matanya menjadi tergenang air mata karena sedih (Lexicon Lane, Imam Razi & Bihar-ul-Anwar).
      Jadi, tidak benar bahwa Nabi Ya’qub a.s. karena selama bertahun-tahun terus menerus  menangis maka  akibatnya mata beliau menjadi buta, yakni mereka mengartikan kalimat wa- byadhdhat ‘ainaahu – dan matanya menjadi putih”, yang mereka artikan bahwa  mata Nabi Ya’qub a.s. menjadi , dan  penglihatan beliau kembali berfungsi setelah baju yang dulu dipakai Nabi Yusuf a.s. -- ketika beliau berangkat bersama kakak-kakaknya -- di letakkan di hadapan beliau (QS.12:94-97). Masalah ini akan dibahas lebih jauh  dalam Bab sehubungan ayat tersebut.
    Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا تَذۡکُرُ  یُوۡسُفَ حَتّٰی تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿۸۶   قَالَ اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ   اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ  مِنَ  اللّٰہِ  مَا  لَا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۸۷
Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk menjadi orang-orang yang binasa!” Ia (Yaqub) menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”  (Yusuf [12]:86-87).
   Perhatikanlah, betapa kedengkian mereka kepada Nabi Yusuf a.s.  masih terus berlangsung, sampai-sampai mereka mengucapkan perkataan yang sangat tidak sopan terhadap ayah mereka.
     Haradh berarti: orang yang cacat tubuh dan otaknya, sakit atau berpenyakit; menderita kegelisahan yang sudah lama memakan pikiran dan penyakit yang menahun; lesu dan letih dan mendekati ajal; menjadi kurus kering disebabkan oleh kesedihan atau oleh cinta yang berlebih-lebihan, dan sebagainya (Lexicon Lane).
     Ayat 87   mengandung arti, bahwa Nabi Ya’qub a.s. telah mendapat kabar dari Allah Swt., bahwa Nabi Yusuf a.s. , Benyamin, dan Yehuda masih hidup.

(Bersambung)
 Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar