بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLVI
Tentang
Sunyi-senyapnya "Duel Makar" Dalam Peristiwa
Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ
الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya telah Kami
berkati, supaya Kami memperlihatkan kepadanya
sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani
Israil [17]:2).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan lebih terinci lagi mengenai apa yang terjadi dengan
“penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta ke mana kepergian beliau setelah
upaya pembunuhan beliau -- melalui penyaliban
-- yang gagal tersebut. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai kegagalan “makar buruk” para pemimpin kaum kafir Quraisy Makkah
terhadap Nabi Besar Muhammad saw. – yang pada hakikatnya merupakan
pengulangan “makar buruk” yang dilakukan para penentang Nabi Salih a.s.
sebelumnya (QS.27:48-54). – firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ
یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ
ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap
engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka
merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar tandingan, dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal
[8]:31).
Hakikat “Isra” Nabi Besar Muhammad Saw.
Sebagaimana halnya pada peristiwa “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “makar
tandingan” Allah Swt. berlangsung
secara anggun dan tanpa
ingar-bingar, demikian juga “makar tandingan” yang dilaksanakan
Allah Swt. melawan “makar buruk” kaum kafir Quraisy Makkah pun
berlangsung dengan cara-cara yang anggun dan tanpa ingar bingar.
Sungguh sangat sempurna Allah Swt.
menjelaskan berlangsungnya “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah
Swt. dalam peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke
Madinah tersebut, yaitu dengan memakai kalimat
“memperjalankan hamba-Nya pada malam hari”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ
الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia
Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang
sekelilingnya
telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan
kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha
Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf
-- yakni suatu perjalanan ruhani -- Nabi Besar Muhammad saw. – telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir
Al-Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan ruhani) beliau saw..
Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat bahwa ayat ini
membahas masalah Isra (perjalanan ruhani di waktu malam) Nabi Besar
Muhammad saw. dari Makkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mikraj
beliau telah dibahas agak terinci dalam Surah Al-Najm.
Karena
peristiwa isra tersebut terjadi ketika Nabi Besar Muhammad saw. masih
berada di Makkah, maka dengan demikian pada hakikatnya peristiwa isra
(perjalanan ruhani) nabi Besar Muhammad saw. tersebut merupakan kabar gaib dan
juga kabar gembira mengenai akan hijrahnya beliau saw. dari Makkah ke Madinah.
Semua
kejadian yang disebut dalam Surah Al-Najm (ayat-ayat 8-18) yang telah
diwahyukan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di
bulan Rajab tahun ke-5 nabawi, diceriterakan secara terinci dalam
buku-buku hadits yang membahas Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw., sedang Isra
beliau saw. dari Makkah ke Yerusalem yang dibahas
oleh ayat ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi, menurut Williams
Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut
Mardawaih dan Ibn Sa’d, peristiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal,
setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra). Baihaqi
pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah.
Mikraj dan Isra
Dua Peristiwa Ruhani yang Berbeda
Waktunya
Dengan
demikian semua hadits yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan bahwa
Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kira
pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah wafat, yang terjadi pada tahun
ke-10 nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani,
saudari sepupu beliau saw.. Tetapi Mi'raj, menurut pendapat sebagian
terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua
kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu 6 atau 7 tahun,
dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama, yang satu harus
dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain.
Lagi
pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadits terjadi dalam Mi'raj Nabi
Besar Muhammad saw. sama
sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini bahwa kedua
peristiwa itu hanya kejadian-kejadian ruhani belaka, dan Nabi Besar
Muhammad saw. tidak naik
ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar.
Selain
kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang
berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat bahwa kejadian itu sama
sekali berbeda dan terpisah satu sama lain:
(a)
Al-Quran menguraikan kejadian Mi'raj Nabi Besar Muhammad saw. dalam surah 53, tetapi sedikit pun
tidak menyinggung Isra, sedang
dalam Surah ini Al-Quran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak
menyinggung peristiwa Mi'raj.
(b)
Ummi Hani, saudari sepupu Nabi Besar Muhammad saw., yang di rumahnya beliau
menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan beliau
saw. ke Yerusalem, dan sama
sekali tidak menyinggung kenaikan beliau saw. ke langit. Ummi Hani adalah orang
pertama yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. menceriterakan perjalanan beliau saw. di
waktu malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat
hadits telah mengutip keterangan Ummi Hani mengenai kejadian ini, yang
bersumber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat,
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. berangkat
ke Yerusalem dan pulang kembali ke Makkah pada malam itu juga.
Jika
seandainya Nabi Besar Muhammad saw. telah membicarakan pula kenaikan beliau
ke langit tentu Ummi Hani tidak akan
lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak
menyebut hal itu dalam satu riwayat pun, dengan demikian menunjukkan dengan
pasti bahwa pada malam yang bersangkutan itu Nabi Besar Muhammad saw. melakukan
Isra hanya sampai Yerusalem, dan bahwa Mi'raj tidak terjadi pada
ketika itu.
Nampaknya
beberapa perawi hadits mencampur-baurkan kedua peristiwa Isra dan Mi'raj
itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan oleh kata isra’, yang
dipergunakan baik untuk Isra maupun untuk Mi'raj, dan persamaan
yang terdapat pada beberapa uraian terinci mengenai Isra dan Mi'raj
telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau balau itu.
(c)
Hadits-hadits yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai
kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau
bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, termasuk Nabi Adam a.s., Nabi Ibrahim a.s.,
Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., dan bahwa di berbagai petala langit beliau menemui kembali nabi-nabi
yang itu-itu juga tetapi tidak dapat
mengenal mereka.
Bagaimana
mungkin nabi-nabi tersebut -- yang telah Nabi Besar Muhammad saw. jumpai di Yerusalem,
sampai pula ke langit sebelum beliau saw. -- dan mengapa beliau tidak mengenali
mereka, sedang beliau saw. telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam
perjalanan itu-itu juga? Tidaklah masuk akal bahwa beliau saw. tidak dapat
mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau saw. bertemu
dengan mereka dalam perjalanan itu juga. Untuk kupasan terinci mengenai masalah
yang penting ini.
Makna “Masjid-al-Aqsha”
“Masjid
Aqsa” (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (Kenisah) yang
didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s. di
Yerusalem. Kasyaf (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad
saw. yang disebut dalam ayat ini (QS.17:2) mengandung suatu nubuatan
yang agung. Perjalanan beliau ke “Masjid Aqsa” berarti hijrah
beliau saw. ke Madinah, tempat beliau akan mendirikan suatu masjid, yang
ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam – yakni Masjid Nabawi -- dan penglihatan diri beliau
sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau saw. mengimami para nabi
lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama Islam
tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja, melainkan akan tersebar ke seluruh
dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri
kepadanya.
Kepergian
Nabi Besar Muhammad saw. ke Yerusalem
dalam kasyaf (penglihatan ruhani) dapat pula dianggap mengandung arti,
bahwa beliau saw. akan diberi kekuasaan atas daerah, yang terletak di Yerusalem
itu. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa khilafat (kekhalifahan)
Sayyidina Umar bin Khaththab r.a.. Kasyaf
ini dapat pula diartikan sebagai
menunjuk kepada suatu perjalanan ruhani (isra) Nabi Besar Muhammad saw..
ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang.
Maksudnya,
bahwa ketika kegelapan ruhani akan menutupi seluruh dunia (QS.32:6), Nabi
Besar Muhammad saw. akan muncul kembali secara ruhani
dalam wujud salah seorang pengikut hakiki beliau saw., dalam satu negara yang sangat
jauh dari tempat pertama beliau saw. diutus. Satu penunjukan yang khusus
kepada kebangkitan kedua Nabi Besar Muhammad saw. terdapat dalam QS.62:3-4 -- yang dalam Surah Yaa Siin 21-29 diumpamakan sebagai “seorang laki-laki
yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu”. Berikut firman-Nya dalam kedua Surah Al-Quran
tersebut:
ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿۴﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ
وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di
kalangan bangsa yang buta huruf seorang crasul
dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka
berada dalam kesesatan yang nyata, Dan juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan bukan kepada bangsa Arab
belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada
seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang
sezaman beliau, melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang
akan datang hingga kiamat. Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. akan dibangkitkan di antara kaum yang belum pernah
tergabung bersama para pengikut semasa hidup beliau saw..
Isyarat di dalam ayat 4 dan di dalam hadits
Nabi Besar Muhammad saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw.
untuk kedua kali dalam wujud Masih
Mau’ud a.s. (Al-Masih yang dijanjikan) di Akhir Zaman atau kedatangan misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58).
Kesaksian Abu Hurairah r.a.
Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari
kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata Dan Dia akan
membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan
mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di
antara kami.
Setelah saya berulang-ulang
mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw.
meletakkan tangan beliau saw. pada Salman dan bersabda: “Bila
iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti
akan menemukannya.” (Bukhari). Hadits Nabi Besar Muhammad
saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari
keturunan Parsi.
Al-Masih Mau’ud a.s., --
yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari
keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih
pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali
kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain
namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada
kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Al-Masih Mau’ud a.s., yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s..
Al-Masih Mau’ud a.s. inilah yang dalam Surah Yaa Siin diumpamakan
sebagai “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota”
itu (Makkah) menggenapi kedatangan 3
orang rasul Allah yang telah didustakan oleh penduduk “kota”
itu. Allah Swt. membangkitkan Al-Masih
Mau’ud a.s. atau Rasul Akhir Zaman ini (QS.61:10) tersebut bukan
dari wilayah Arabia, melainkan dari wilayah Hindustan, yakni dari kampung Qadian,
itulah sebabnya dikatakan “datang
dengan berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” firman-Nya:
وَ
جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ
یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱﴾ اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲﴾
Dan datang
dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari, ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah
utusan-utusan (rasul-rasul) itu, ikutilah
mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat
petunjuk.” (Yaa Siin [36):21-22).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar