Senin, 13 Februari 2012

Sunyi-senyapnya "Duel makar" dalam Peristiwa Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLVI
Tentang

        Sunyi-senyapnya "Duel Makar"  Dalam Peristiwa 
         Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma 

 
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿۲
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan   hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati,   supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan lebih terinci lagi mengenai apa yang terjadi dengan “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta ke mana kepergian beliau setelah upaya  pembunuhan beliau -- melalui penyaliban -- yang gagal tersebut. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai   kegagalan “makar buruk”  para pemimpin kaum kafir Quraisy Makkah terhadap Nabi Besar Muhammad saw.  – yang pada hakikatnya merupakan pengulangan “makar buruk” yang dilakukan para penentang Nabi Salih a.s. sebelumnya (QS.27:48-54). –  firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).

Hakikat “Isra” Nabi Besar Muhammad Saw.

       Sebagaimana halnya pada peristiwa  “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “makar tandingan” Allah Swt. berlangsung  secara anggun dan  tanpa ingar-bingar, demikian juga “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. melawan “makar buruk” kaum kafir Quraisy Makkah pun berlangsung dengan cara-cara yang anggun dan tanpa ingar bingar.
      Sungguh sangat sempurna Allah Swt. menjelaskan berlangsungnya “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. dalam peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah tersebut, yaitu dengan memakai  kalimat “memperjalankan hamba-Nya pada malam hari”,  firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿۲
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan   hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
      Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf  -- yakni suatu perjalanan  ruhani -- Nabi Besar Muhammad saw.  –   telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Al-Quran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan ruhani) beliau saw.. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan ruhani di waktu malam) Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mikraj beliau telah dibahas agak terinci dalam Surah Al-Najm.
      Karena peristiwa isra tersebut terjadi ketika Nabi Besar Muhammad saw. masih berada di Makkah, maka dengan demikian pada hakikatnya peristiwa isra (perjalanan ruhani) nabi Besar Muhammad saw. tersebut merupakan kabar gaib dan juga kabar gembira mengenai akan hijrahnya  beliau saw. dari Makkah ke Madinah.
     Semua kejadian yang disebut dalam Surah Al-Najm (ayat-ayat 8-18) yang telah diwahyukan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang telah terjadi di bulan Rajab tahun ke-5 nabawi, diceriterakan secara terinci dalam buku-buku hadits yang membahas Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw., sedang Isra  beliau saw.  dari Makkah ke Yerusalem yang dibahas oleh ayat ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi, menurut Williams Muir dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut Mardawaih dan Ibn Sa’d, peristiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal, setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra). Baihaqi pun menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah.

Mikraj dan Isra  Dua Peristiwa Ruhani  yang Berbeda Waktunya

      Dengan demikian semua hadits yang bersangkutan dengan persoalan ini menunjukkan bahwa Isra itu terjadi setahun atau 6 bulan sebelum hijrah, yaitu kira-kira pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw.  tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau saw.. Tetapi Mi'raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu 6 atau 7 tahun, dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama, yang satu harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain.
      Lagi pula peristiwa-peristiwa yang menurut hadits terjadi dalam Mi'raj Nabi Besar Muhammad saw.  sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini bahwa kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian ruhani belaka, dan Nabi Besar Muhammad saw.  tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan tubuh kasar.
       Selain kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat bahwa kejadian itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain:
     (a) Al-Quran menguraikan kejadian Mi'raj Nabi Besar Muhammad saw.   dalam surah 53, tetapi sedikit pun tidak menyinggung  Isra, sedang dalam Surah ini Al-Quran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung peristiwa Mi'raj.
    (b) Ummi Hani, saudari sepupu Nabi Besar Muhammad saw., yang di rumahnya beliau menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan perjalanan beliau saw.   ke Yerusalem, dan sama sekali tidak menyinggung kenaikan beliau saw. ke langit. Ummi Hani adalah orang pertama yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw.  menceriterakan perjalanan beliau saw. di waktu malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat hadits telah mengutip keterangan Ummi Hani mengenai kejadian ini, yang bersumber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini sepakat, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali ke Makkah pada malam itu juga.
       Jika seandainya Nabi Besar Muhammad saw.  telah membicarakan pula kenaikan beliau ke langit  tentu Ummi Hani tidak akan lupa menyebutkan hal ini dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam satu riwayat pun, dengan demikian menunjukkan dengan pasti bahwa pada malam yang bersangkutan itu Nabi Besar Muhammad saw. melakukan Isra hanya sampai Yerusalem, dan bahwa Mi'raj tidak terjadi pada ketika itu.
       Nampaknya beberapa perawi hadits mencampur-baurkan kedua peristiwa Isra dan Mi'raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan oleh kata isra’, yang dipergunakan baik untuk Isra maupun untuk Mi'raj, dan persamaan yang terdapat pada beberapa uraian terinci mengenai Isra dan Mi'raj telah menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau balau itu.
       (c) Hadits-hadits yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Nabi Besar Muhammad saw.  ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem beliau bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, termasuk Nabi Adam a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s.,  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan bahwa di berbagai petala langit beliau menemui kembali nabi-nabi yang itu-itu juga  tetapi tidak dapat mengenal mereka.
      Bagaimana mungkin nabi-nabi tersebut -- yang telah Nabi Besar Muhammad saw. jumpai di Yerusalem, sampai pula ke langit sebelum beliau saw. -- dan mengapa beliau tidak mengenali mereka, sedang beliau  saw. telah melihat mereka beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga? Tidaklah masuk akal bahwa beliau saw. tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum itu, beliau saw. bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga. Untuk kupasan terinci mengenai masalah yang penting ini.

Makna “Masjid-al-Aqsha”

     “Masjid Aqsa” (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (Kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s.   di Yerusalem.   Kasyaf (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw. yang disebut dalam ayat ini (QS.17:2) mengandung suatu nubuatan yang agung. Perjalanan beliau ke “Masjid Aqsa” berarti hijrah beliau saw. ke Madinah, tempat beliau akan mendirikan suatu masjid, yang ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam – yakni  Masjid Nabawi -- dan penglihatan diri beliau sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau saw. mengimami para nabi lainnya dalam shalat mengandung arti, bahwa agama   Islam tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja, melainkan akan tersebar ke seluruh dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya.
      Kepergian Nabi Besar Muhammad saw.  ke Yerusalem dalam kasyaf (penglihatan ruhani) dapat pula dianggap mengandung arti, bahwa beliau saw. akan diberi kekuasaan atas daerah, yang terletak di Yerusalem itu. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa khilafat (kekhalifahan) Sayyidina Umar  bin Khaththab r.a.. Kasyaf    ini dapat pula diartikan sebagai menunjuk kepada suatu perjalanan ruhani (isra) Nabi Besar Muhammad saw.. ke suatu negara jauh, di suatu masa yang akan datang.
      Maksudnya, bahwa ketika kegelapan ruhani akan menutupi seluruh dunia (QS.32:6), Nabi Besar Muhammad saw. akan muncul kembali secara ruhani dalam wujud salah seorang pengikut hakiki beliau saw., dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau saw. diutus. Satu penunjukan yang khusus kepada kebangkitan kedua Nabi Besar Muhammad saw.  terdapat dalam QS.62:3-4 --  yang dalam Surah Yaa Siin 21-29  diumpamakan sebagai “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu”.  Berikut firman-Nya dalam kedua Surah Al-Quran tersebut:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿۴  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang crasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Ajaran  Nabi Besar Muhammad saw.  ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka, yang di tengah-tengah bangsa itu beliau dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau, melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga kiamat. Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan di antara kaum yang belum pernah tergabung bersama para pengikut semasa hidup beliau saw..
 Isyarat di dalam ayat 4 dan di dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih yang dijanjikan)  di Akhir Zaman atau kedatangan   misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.43:58).

Kesaksian Abu Hurairah r.a.

 Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?”Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw.  meletakkan tangan beliau saw. pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari). Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi
Al-Masih Mau’ud a.s.,   -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- pendiri Jemaat Ahmadiyah -- adalah dari keturunan Parsi. Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud  Al-Masih Mau’ud a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s..
  Al-Masih Mau’ud a.s. inilah yang dalam Surah Yaa Siin diumpamakan sebagai “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota” itu (Makkah)  menggenapi kedatangan 3 orang rasul Allah yang telah didustakan oleh penduduk “kota” itu.  Allah Swt. membangkitkan Al-Masih Mau’ud a.s. atau Rasul Akhir Zaman ini (QS.61:10) tersebut bukan dari wilayah Arabia, melainkan dari wilayah Hindustan, yakni dari kampung Qadian, itulah sebabnya  dikatakan “datang dengan berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” firman-Nya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱ اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲
Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki  dengan berlari-lari,  ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan (rasul-rasul)   itu, ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Yaa Siin [36):21-22).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid




Tidak ada komentar:

Posting Komentar