Selasa, 21 Februari 2012

Pentingnya Memiliki "Mata Ruhani" yang Melihat


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXX
 
Tentang

        Pentingnya Memiliki "Mata Ruhani" 
yang Melihat.
    
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  ﴿ؕ۷۰
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti   orang-orang yang telah menyusahkan  Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan ia di sisi Allah adalah orang yang terhormat. (Al-Ahzab [33]:70).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  kebutaan mata ruhani yang melanda umumnya  di kalangan Bani Israil,   bukan saja mereka yang mendustakan dan menentang  para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89; QS.5:47; QS.57:28), tetapi juga di kalangan yang menjadi pengikut Nabi Musa a.s. --  baik ketika mereka masih berada di Mesir maupun setelah keluar dari Mesir --  bahkan sekali pun mereka menyaksikan  dengan mata kepala sendiri tenggelamnya Fir’aun serta lasykar yang mengejar mereka  di laut, firman-Nya:
وَ اِذۡ نَجَّیۡنٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَسُوۡمُوۡنَکُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ یُذَبِّحُوۡنَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ یَسۡتَحۡیُوۡنَ نِسَآءَکُمۡ ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکُمۡ بَلَآ ءٌ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ عَظِیۡمٌ ﴿۵۱﴾وَ اِذۡ فَرَقۡنَا بِکُمُ الۡبَحۡرَ فَاَنۡجَیۡنٰکُمۡ وَ اَغۡرَقۡنَاۤ  اٰلَ فِرۡعَوۡنَ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿۵۲
Dan ingatlah ketika Kami  menyelamatkan kamu dari kaum  Fir'aun yang menimpakan azab yang sangat buruk kepadamu, mereka  menyembelih anak-anak laki-lakimu, dan membiarkan hidup perempuan-perempuanmu, dan dalam yang demikian itu merupakan cobaan-cobaan  besar  dari Tuhan kamu untukmu.    Dan ingatlah ketika Kami membelah laut untuk kamu lalu Kami menyelamatkanmu dan  Kami menenggelamkan  kaum Fir'aun  sedangkan kamu menyaksikannya. (Al-Baqarah [2]:50-51).  Lihat pula  QS.7:137; QS.8:55; QS.20:78, 81; QS.26:64-67; QS.28:41; QS.44:25.
     Pendek kata, kebutaan mata ruhani mereka itulah yang mengakinatkan Nabi Musa a.s. sering mengalami kesedihan akibat berbagai ulah dan perkataan buruk mereka mengenai beliau, dan Allah Swt. telah memperingatkan umat Islam untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  ﴿ؕ۷۰
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti   orang-orang yang telah menyusahkan  Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan.  Dan ia di sisi Allah adalah orang yang terhormat. (Al-Ahzab [33]:70).
      Aadzahu berarti:  ia melakukan atau mengatakan apa yang tidak disenanginya atau yang dibencinya, mengganggu atau menjengkelkan atau melukai perasaan dia.   Nabi Musa a.s. telah dijadikan sasaran fitnahan-fitnahan berat, antara lain: (1) Qarun (Qorah) menghasut seorang perempuan mengada-adakan tuduhan terhadap beliau bahwa beliau pernah mengadakan hubungan gelap dengan dirinya. (2) Karena timbul iri hati melihat semakin meningkatnya pengaruh Nabi Harun di tengah kaum beliau, Nabi Musa a.s. berusaha membunuh Nabi Harun a.s.   (3) Beliau mengidap penyakit lepra dan rajasinga atau syphilis. (4) Samiri menuduh beliau berbuat syirik. (5) Adik perempuan beliau sendiri melemparkan tuduhan palsu terhadap beliau (Bilangan 12:1).
       Jadi, jika dalam kenyataannya seperti itu sikap buruk umumnya Bani Israil  kepada Nabi Musa a.s. yang telah menyelamatkan mereka dari kebinasaan  yang pasti di Mesir dari kezaliman para Fir’aun, maka terlebih lagi terhadap “nabi yang seperti Musa” yang dibangkitkan dari kalangan “saudara mereka” (Bani Isma’il), yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.56:11; QS.2:47; QS.26:193-198).
       Allah Swt. telah berfirman bahwa orang-orang yang mampu menyaksikan Tanda-tanda Allah  di seluruh tatanan alam semesta hanyalah “orang-orang yang berakal” atau  orang-orang yang “mata ruhaninya” berfungsi dengan baik, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۹۱﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿۱۹۲
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 192. Yaitu  orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk me-reka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.” (Ali ‘Imran [3]:191-192).
      Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan seluruh  langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ialah: manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
       Tatanan agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang agung dan mulia pula. Bila orang merenungkan tentang kandungan arti keruhanian yang diserap dari gejala-gejala fisik di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang melingkupinya itu, ia akan begitu terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khaaliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan: “Ya  Tuhan kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini sia-sia.”
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai perjalanan makrifat  “orang-orang yang berakal” tersebut mengenai pentingnya menyelaraskan diri dengan berbagai ketentuan hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. berkenaan tatanan alam semesta ini  mau pun menyalaraskan diri dengan hukum-hukum syariat,  karena kedua jenis hukum Allah Swt. tersebut saling mendukung,  firman-Nya::
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  ﴿۱۹۳
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Aali ‘Imran [3]:193).
       Ketika “orang-orang yang berakal” tersebut menyaksikan  berkobarnya berbagai bentuk Api kemurkaan Allah Swt. berupa azab-azab yang beraneka ragam maka pikirannya sampai kepada kesimpulan bahwa pasti Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan telah datang (QS.7:35-37), karena menurutnya Allah Swt. mustahil  mengazab manusia – bagaimana pun sesat serta durhakanya mereka – sebelum terlebih dulu diutus  Rasul Allah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan (QS.17:16), firman-Nya:
  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿۱۹۳﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿۱۹۴
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah beriman.  Karena itu wahai Tuhan kami,  ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai Tuhan kami,  dan  berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”  (Ali ‘Imran [3]:194-195).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar