بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXX
Tentang
Pentingnya Memiliki "Mata Ruhani"
yang Melihat.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ
اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ اللّٰہُ
مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ
وَجِیۡہًا ﴿ؕ۷۰﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang telah menyusahkan Musa, tetapi Allah
membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan ia di sisi Allah adalah orang
yang terhormat. (Al-Ahzab [33]:70).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai kebutaan
mata ruhani yang melanda umumnya di
kalangan Bani Israil, bukan saja
mereka yang mendustakan dan menentang para rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka (QS.2:88-89; QS.5:47; QS.57:28), tetapi juga di kalangan yang
menjadi pengikut Nabi Musa a.s. --
baik ketika mereka masih berada di Mesir maupun setelah keluar dari
Mesir -- bahkan sekali pun mereka
menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya
Fir’aun serta lasykar yang mengejar mereka
di laut, firman-Nya:
وَ اِذۡ نَجَّیۡنٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَسُوۡمُوۡنَکُمۡ
سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ یُذَبِّحُوۡنَ
اَبۡنَآءَکُمۡ وَ یَسۡتَحۡیُوۡنَ نِسَآءَکُمۡ ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکُمۡ بَلَآ ءٌ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ عَظِیۡمٌ ﴿۵۱﴾وَ اِذۡ فَرَقۡنَا بِکُمُ الۡبَحۡرَ
فَاَنۡجَیۡنٰکُمۡ وَ اَغۡرَقۡنَاۤ اٰلَ
فِرۡعَوۡنَ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿۵۲﴾
Dan ingatlah
ketika Kami menyelamatkan
kamu dari kaum Fir'aun
yang menimpakan azab yang sangat buruk kepadamu, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu,
dan membiarkan hidup perempuan-perempuanmu, dan dalam yang demikian itu
merupakan cobaan-cobaan besar dari Tuhan kamu untukmu. Dan ingatlah ketika Kami membelah
laut untuk kamu lalu Kami menyelamatkanmu dan Kami menenggelamkan kaum Fir'aun
sedangkan kamu menyaksikannya. (Al-Baqarah
[2]:50-51). Lihat pula QS.7:137; QS.8:55; QS.20:78, 81;
QS.26:64-67; QS.28:41; QS.44:25.
Pendek kata, kebutaan mata ruhani mereka
itulah yang mengakinatkan Nabi Musa a.s. sering mengalami kesedihan akibat
berbagai ulah dan perkataan buruk mereka mengenai beliau, dan Allah Swt. telah
memperingatkan umat Islam untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ
اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ اللّٰہُ
مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ
وَجِیۡہًا ﴿ؕ۷۰﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang yang telah menyusahkan Musa, tetapi Allah
membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan ia di sisi Allah adalah orang
yang terhormat. (Al-Ahzab [33]:70).
Aadzahu
berarti: ia melakukan atau mengatakan
apa yang tidak disenanginya atau yang dibencinya, mengganggu atau menjengkelkan
atau melukai perasaan dia. Nabi Musa a.s. telah dijadikan sasaran fitnahan-fitnahan
berat, antara lain: (1) Qarun (Qorah) menghasut seorang perempuan
mengada-adakan tuduhan terhadap beliau bahwa beliau pernah mengadakan hubungan
gelap dengan dirinya. (2) Karena timbul iri hati melihat semakin meningkatnya
pengaruh Nabi Harun di tengah kaum beliau, Nabi Musa a.s. berusaha membunuh
Nabi Harun a.s. (3) Beliau
mengidap penyakit lepra dan rajasinga atau syphilis. (4) Samiri menuduh beliau
berbuat syirik. (5) Adik perempuan beliau sendiri melemparkan tuduhan palsu
terhadap beliau (Bilangan 12:1).
Jadi,
jika dalam kenyataannya seperti itu sikap buruk umumnya Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. yang telah
menyelamatkan mereka dari kebinasaan
yang pasti di Mesir dari kezaliman para Fir’aun, maka terlebih lagi
terhadap “nabi yang seperti Musa” yang dibangkitkan dari kalangan
“saudara mereka” (Bani Isma’il), yaitu Nabi Besar Muhammad saw. (QS.56:11;
QS.2:47; QS.26:193-198).
Allah
Swt. telah berfirman bahwa orang-orang yang mampu menyaksikan Tanda-tanda
Allah di seluruh tatanan alam
semesta hanyalah “orang-orang yang berakal” atau orang-orang yang “mata ruhaninya” berfungsi
dengan baik, firman-Nya:
اِنَّ
فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۹۱﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ ﴿۱۹۲﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi
serta pertukaran malam dan siang
benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 192.
Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk,
dan sambil berbaring atas rusuk
me-reka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami,
sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan
semua ini sia-sia,
Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah
kami dari azab Api.” (Ali ‘Imran [3]:191-192).
Pelajaran
yang terkandung dalam penciptaan seluruh
langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ialah: manusia
diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat
amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh
masa terang benderang dan kebahagiaan.
Tatanan
agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa
suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk
menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang
agung dan mulia pula. Bila
orang merenungkan tentang kandungan arti keruhanian yang diserap dari gejala-gejala
fisik di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang
melingkupinya itu, ia akan begitu terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur
Sang Al-Khaaliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta
terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan: “Ya Tuhan kami, sekali-kali tidaklah Engkau
menciptakan semua ini sia-sia.”
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai perjalanan makrifat “orang-orang yang
berakal” tersebut mengenai pentingnya menyelaraskan diri dengan berbagai
ketentuan hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. berkenaan tatanan alam
semesta ini mau pun menyalaraskan diri dengan hukum-hukum syariat, karena kedua jenis hukum Allah Swt. tersebut saling mendukung, firman-Nya::
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿۱۹۳﴾
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan
ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan
sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Aali
‘Imran [3]:193).
Ketika “orang-orang
yang berakal” tersebut menyaksikan
berkobarnya berbagai bentuk Api kemurkaan Allah Swt. berupa azab-azab
yang beraneka ragam maka pikirannya sampai kepada kesimpulan bahwa pasti Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan telah datang (QS.7:35-37), karena
menurutnya Allah Swt. mustahil mengazab
manusia – bagaimana pun sesat serta durhakanya mereka – sebelum terlebih dulu
diutus Rasul Allah sebagai pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan (QS.17:16), firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا
مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿۱۹۳﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿۱۹۴﴾
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang
Penyeru menyeru kami kepada
keimanan seraya berkata:
"Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah
beriman. Karena itu wahai Tuhan
kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa
kami, dan hapuskanlah
dari kami kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai
Tuhan kami, dan berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau,
dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya
Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar