Jumat, 10 Februari 2012

Makna "Kun Fayakun" (2)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLII
Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa Hijrah 
Nabi Besar Muhammad Saw.  &
  Makna "Kun Fayakun" (2)
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ لَّہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ ﴿۱۱۷ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿۱۱۸
Dan mereka berkata:  ”Allah mengambil yakni memiliki  seorang anak.” Maha Suci Dia. Tidak,  bahkan milik Dia-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan di bumi,  semua tunduk kepada-Nya.   Dia-lah  Yang memulai penciptaan   seluruh langit dan bumi, dan apabila Dia menetapkan   sesuatu urusan maka  Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah” maka terjadilah ia. (Al-Baqarah [2]:117-118).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa  berkenaan berbagai mukjizat atau Tanda yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak ada ayat Al-Quran yang menggunakan kata: “kun fayakun (Jadilah, maka  itu terjadi). Saya kutip kembali  berbagai ayat Al-Quran  berkenaan dengan kalimat “Kun fayakun” sebelum ini:
      (1) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi, firman-Nya:
اِنَّمَا قَوۡلُنَا لِشَیۡءٍ   اِذَاۤ   اَرَدۡنٰہُ اَنۡ نَّقُوۡلَ  لَہٗ   کُنۡ  فَیَکُوۡنُ ﴿٪۴۱
Sesungguhnya ucapan Kami berkenaan dengan sesuatu apabila Kami  menghendakinya,  Kami hanya berkata mengenainya:  “Jadilah” maka  terjadilah ia. (Al-Nahl [16]:41).

Pengertian Kata Perintah “Kun!” (Jadilah!)

      Kata kun (jadilah) tidaklah berarti bahwa Allah Swt.   memberikan perintah kepada sesuatu yang telah ada wujudnya. Kata itu hanya semata-mata menyatakan suatu kehendak, dan berarti bahwa bila Tuhan menyatakan suatu kehendak, maka kehendak itu akan segera memperoleh wujud yang nyata atau terbukti.
      Dalam pengertian itu pulalah Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145; QS.39:67); Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah)   mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99); Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin dan  keselamatan  ketika  Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya (QS.21:70).
     (2)  Demikian juga Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya melalui rahim Siti Maryam,  sebab kalau Allah Swt. menghendaki hal itu Dia cukup berfirman: “Kun, fayakun”.
مَا کَانَ لِلّٰہِ اَنۡ یَّتَّخِذَ مِنۡ  وَّلَدٍ ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ اِذَا  قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿ؕ۳۶
Sekali-kali  tidak layak bagi Allah mengambil seorang anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia menetapkan suatu perintah maka sesungguhnya Dia hanya berfirman  mengenainya: "Jadilah”  maka terjadilah.  (Maryam [18]:36).
 Umat Kristen percaya bahwa Isa Ibnu Maryam a.s. adalah anak Tuhan, mereka menyandarkan kepercayaan ini kepada anggapan  bahwa Bible menyebut beliau “anak Allah." Tetapi dalam Bible orang-orang yang  lain pun telah disebut atau  dipanggil "anak Allah". Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak mernpunyai kemuliaan yang istimewa dalam hal Ini,  karena itu beliau sebagai "anak Allah" tidak lebih dari halnya pribadi-pribadi lain yang telah mendapat panggilan yang serupa (Lukas 20; 36; Yermia 31:9; Matius 6:9; Yahya 8:41 & Epesus 4:6).
Dalam bahasa Arab kata kun selain dialamatkan kepada sesuatu, dipergunakan pula untuk menyatakan keinginan yang sangat dirasakan. Dalam satu gerakan militer, seorang sahabat Nabi Besar Muhammad saw.   yang  sangat berani dan setia, yaitu  Abu Khaitsamah, kebetulan tidak ikut serta. Beliau saw. sangat merasakan ketidak-hadirannya.
Ketika tengah berkecamuknya peperangan, beliau melihat dari jarak jauh seorang penunggang kuda sedang menuju arah beliau dengan kecepatan tinggi, beliau berteriak: "Kun Abu Khaisamah!"   (Jadilah Abu Khaisamah),  maksudnya  mudah-mudahan orang itu Abu Khaisamah, dan benar juga orang itu Abu Khaisamah (Halbiyah).
Jadi, kata kun mengandung arti bahwa apabila Allah Swt.   menginginkan atau menghendaki sesuatu terwujud maka sesuatu itu terwujudlah; atau bila Allah Swt.  menyatakan sesuatu keinginan maka keinginan itu memperoleh bentuk yang nyata. Kata itu tidak mendukung pandangan bahwa ruh dan benda itu azali atau sama kekalnya seperti  Allah Swt., sebagaimana kepercayaan  kaum Hindu.

Rangkaian Hukum “Sebab-Akibat”

       (3) Dalam Surah  Al-Quran lain Allah Swt. berfirman mengenai penolakan faham  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “Anak Allah” – na’udzubillaahi min dzaalik – dan hubungannya dengan penciptaan tatanan alam semesta:
وَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ لَّہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ ﴿۱۱۷ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿۱۱۸
Dan mereka berkata:  Allah mengambil yakni memiliki  seorang anak.” Maha Suci Dia. Tidak,  bahkan milik Dia-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan di bumi,  semua tunduk kepada-Nya.   Dia-lah  Yang memulai penciptaan   seluruh langit dan bumi, dan apabila Dia menetapkan   sesuatu urusan maka  Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah” maka terjadilah ia. (Al-Baqarah [2]:117-118).
     Kata “anak Tuhan” dipergunakan secara tamsilan (kiasan) dalam kepustakaan agama Yahudi dengan artian “hamba Tuhan yang tercinta” atau “seorang nabi,” lalu kemudian hari menjadi mengandung arti harfiah (Lukas 20:36; Matius 5:9, 45, 48; Ulangan 14:1; Keluaran 4:22; Galatia  3:26; dan sebagainya).
     Jika Allah Swt.  mempunyai anak maka Dia  pasti dikuasai oleh nafsu dan memerlukan istri serta dapat terbagi, sebab anak merupakan bagian tubuh ayahnya, dan juga  Allah Swt.  tentu harus tunduk kepada hukum mati, sebab mempunyai keturunan — sebagaimana terkandung dalam penisbahan seorang anak kepada Allah Swt.  — merupakan ciri khas wujud-wujud yang dapat binasa. Islam menolak semua paham serupa itu sebab, menurut Islam  Tuhan itu Maha Suci, bebas dari segala kekurangan atau cacat.
Sifat  Al-Badii’ (Yang Memulai Penciptaan))  bukan saja menentang dogma agama Kristen tentang ketuhanan Isa, tetapi juga dengan jitu menolak teori agama Hindu bahwa ruh dan benda itu azali (tidak ada permulaannya) dan kekal:
     (1) Allah Swt.  adalah Pencipta seluruh  langit dan bumi, yang berarti bahwa Dia tidak memerlukan pertolongan anak atau siapa pun untuk menjadikan alam semesta.  
     (2) Allah Swt.   adalah Yang menyebabkan terjadinya alam semesta, artinya Dia menjadikan segala sesuatu dari serba tiada, tanpa contoh yang telah ada sebelumnya, dan tanpa bahan yang telah ada sebelumnya.
      (3) Dia Maha Kuasa, artinya bila Dia menetapkan sesuatu hal atau benda harus berwujud maka hal atau benda itu berwujudlah sesuai dengan perintah dan rencana-Nya.
Jadi, ayat “Kun fayakun”   tidak seharusnya berarti seperti kadang-kadang dengan keliru disangka orang bahwa bila Allah Swt.  menetapkan sesuatu zat harus berwujud maka   zat tersebut  berwujud  dengan tiba-tiba. Apa yang dimaksudkan ialah, bila Dia  menakdirkan sesuatu zat terwujud, tiada yang dapat merintangi takdir-Nya.
       Dalam pengertian itulah  makna “Kun fayakun” yang terdapat dalam Al-Quran, bahwa -- walau pun benar bahwa kekuasaan Allah Swt. itu tidak terbatas --  tetapi demi untuk kepentingan umat manusia sendiri  dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan maka Allah Swt. telah menetapkan  rangkaian “hukum sebab-akibat” dalam penciptaan alam semesta dan juga dalam hal penciptaan   manusia.
      Demikian pula penciptaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun tidak lepas dari ketetapan “hukum sebab akibat” melalui rahim seorang perempuan (ibu) selama 9 bulan, sebagaimana yang terjadi dalam proses penciptaan umumnya umat manusia (QS.4:2; QS.49:14; QS.22:6; QS.23:13-15; QS.31:15; QS.46:16).
      Jadi, tidak ada seorang manusia   pun yang   menjadi manusia  secara tiba-tiba melalui perkataan “Kun fayakun!” sebagaimana yang secara keliru telah difahami. Ada pun  firman Allah Swt.  “Kun fayakun” mengenai Siti Maryam  bukan mengenai wujud Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., melainkan   mengenai proses kehamilan  ibu beliau tanpa  melalui “pembuahan rahim”  yang biasa terjadi di kalangan  perempuan yang melahirkan anak.

Hakikat Nama “Isa Ibnu (Anak) Maryam

      Penamaan “Isa Ibnu Maryam”  kepada  bayi  yang dilahirkan oleh Siti Maryam   memberikan penjelasan yang sangat jitu, bahwa kedudukan Siti Maryam a.s. bagi “bayi” yang dilahirkannya adalah sebagai ibu merangkap sebagai ayah si bayi. Itulah sebabnya Allah Swt. melalui malaikat Jibril a.s.  memberitahukan kepada Siti Maryam  bahwa bayi yang akan dilahirkannya nanti bernama Isa Ibnu Maryam (Isa anak Maryam -  (QS.3:43-48),  bukan Isa IbnulLaah (Isa anak Allah) – na’udzubilLaahi min dzaalik – sebagaimana yang kemudian direkayasa oleh Paulus dalam surat-surat kirimannya.
      Berikut  pernyataan Allah Swt. lainnya bahwa penggunaan “kun fayakun” berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah hanya berkenaan dengan proses kelahirannya yang menyimpang dari kebiasaan kelahiran umumnya manusia,  bukan mengenai keadaan wujud beliau, sebab mengenai wujud Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sedikit pun tidak ada perbedaan dengan manusia lainnya bahwa  untuk mempertahankan hidupnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun   perlu makan, minum, bernafas dan lain-lain, firman-Nya:
اِنَّ مَثَلَ عِیۡسٰی عِنۡدَ اللّٰہِ کَمَثَلِ اٰدَمَ ؕ خَلَقَہٗ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿۶۰
Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti misal penciptaan Adam Dia menjadikannya dari debu   kemudian Dia berfirman kepadanya: “Jadilah!”  maka  terjadilah ia. (Ali ‘Imran [3]:60).
      Kata Adam utamanya berarti orang laki-laki, yakni anak-cucu Adam a.s.  seumumnya. Dengan demikian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s  dinyatakan seperti makhluk lainnya tunduk kepada hukum mati dan semuanya dijadikan dari debu (QS.40:68),    karena itu tiada sifat Ketuhanan melekat pada diri beliau.
       Tetapi bila kata  Adam  diartikan menunjuk kepada leluhur umat manusia, maka ayat itu harus diartikan mengisyaratkan kepada persamaan antara Isa dan Adam dalam hal adanya telah dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah. Kenyataan bahwa Nabi Isa a.s. itu mempunyai ibu, tidak mempengaruhi persamaan itu, dan seperti dinyatakan di atas persamaan itu tidak seharusnya lengkap dalam segala hal.
      Di tempat lain dinyatakan bahwa manusia dijadikan dari  thiin  (tanah liat -  QS.6:3). Perbedaan yang hendak dikemukakan  penggunaan kata “debu” dan “tanah liat” adalah, bila dipakai kata “debu” wawasan mengenai wahyu (air ruhani) tidak dimasukkan, tetapi kalau “tanah liat” yang dipakai maka wawasan wahyu juga termasuk di dalamnya.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

1 komentar:

  1. CASINO HOTEL & CASINO, WALES, MO - KSH-HUB
    JOHNN'S CASINO HOTEL & CASINO in WALES, 시흥 출장마사지 MO - Find reviews, hours, directions, 계룡 출장마사지 opening hours 문경 출장샵 and a detailed 대전광역 출장안마 profile 강릉 출장샵 of the casino.

    BalasHapus