بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLII
Tentang
"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad Saw. &
Makna "Kun Fayakun" (2)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ لَّہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ ﴿۱۱۷﴾ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ
لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿۱۱۸﴾
Dan mereka berkata: ”Allah
mengambil yakni memiliki seorang
anak.” Maha Suci Dia. Tidak,
bahkan milik Dia-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan di bumi, semua tunduk kepada-Nya. Dia-lah
Yang memulai
penciptaan seluruh langit dan bumi, dan apabila Dia
menetapkan sesuatu urusan maka Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah”
maka terjadilah ia. (Al-Baqarah [2]:117-118).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan bahwa
berkenaan berbagai mukjizat atau Tanda yang dilakukan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tidak ada ayat Al-Quran yang menggunakan kata: “kun fayakun (Jadilah,
maka itu terjadi). Saya kutip kembali berbagai ayat Al-Quran berkenaan dengan kalimat “Kun fayakun”
sebelum ini:
(1) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka
terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi, firman-Nya:
اِنَّمَا قَوۡلُنَا لِشَیۡءٍ
اِذَاۤ اَرَدۡنٰہُ اَنۡ
نَّقُوۡلَ لَہٗ کُنۡ
فَیَکُوۡنُ ﴿٪۴۱﴾
Sesungguhnya ucapan Kami berkenaan dengan sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya berkata mengenainya: “Jadilah” maka terjadilah ia. (Al-Nahl
[16]:41).
Pengertian Kata Perintah “Kun!” (Jadilah!)
Kata
kun (jadilah) tidaklah berarti bahwa Allah Swt. memberikan perintah kepada
sesuatu yang telah ada wujudnya. Kata itu hanya semata-mata menyatakan suatu kehendak,
dan berarti bahwa bila Tuhan menyatakan suatu kehendak, maka kehendak
itu akan segera memperoleh wujud yang nyata atau terbukti.
Dalam
pengertian itu pulalah Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi
Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur
- QS.7:145; QS.39:67); Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar
menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99); Allah Swt. berfirman “Kuuniy”
(jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin dan keselamatan ketika
Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya (QS.21:70).
(2) Demikian juga Allah Swt. berfirman “Kun
fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt. mengambil seorang anak
bagi-Nya melalui rahim Siti Maryam, sebab kalau Allah Swt. menghendaki hal itu Dia
cukup berfirman: “Kun, fayakun”.
مَا کَانَ لِلّٰہِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
مِنۡ وَّلَدٍ ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿ؕ۳۶﴾
Sekali-kali tidak layak
bagi Allah mengambil
seorang anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia menetapkan suatu
perintah maka sesungguhnya Dia hanya berfirman mengenainya: "Jadilah” maka terjadilah. (Maryam [18]:36).
Umat Kristen percaya bahwa Isa Ibnu
Maryam a.s. adalah anak
Tuhan, mereka menyandarkan kepercayaan ini kepada anggapan bahwa Bible menyebut beliau “anak
Allah." Tetapi
dalam Bible orang-orang yang lain pun
telah disebut atau dipanggil "anak
Allah". Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tidak mernpunyai
kemuliaan yang istimewa dalam hal Ini,
karena itu beliau sebagai "anak Allah" tidak lebih dari halnya pribadi-pribadi lain
yang telah mendapat panggilan yang serupa (Lukas 20; 36; Yermia
31:9; Matius 6:9; Yahya 8:41 & Epesus
4:6).
Dalam bahasa Arab kata kun selain
dialamatkan kepada sesuatu, dipergunakan pula untuk menyatakan keinginan yang
sangat dirasakan. Dalam satu gerakan militer, seorang sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. yang sangat berani dan setia, yaitu Abu Khaitsamah, kebetulan tidak ikut serta. Beliau
saw. sangat merasakan ketidak-hadirannya.
Ketika tengah berkecamuknya peperangan, beliau
melihat dari jarak jauh seorang penunggang kuda sedang menuju arah beliau
dengan kecepatan tinggi, beliau berteriak: "Kun Abu
Khaisamah!" (Jadilah Abu
Khaisamah), maksudnya mudah-mudahan orang itu Abu Khaisamah, dan
benar juga orang itu Abu Khaisamah (Halbiyah).
Jadi, kata kun mengandung arti bahwa
apabila Allah Swt. menginginkan atau menghendaki sesuatu
terwujud maka sesuatu itu terwujudlah; atau bila Allah Swt. menyatakan
sesuatu keinginan maka keinginan itu memperoleh bentuk yang nyata. Kata itu
tidak mendukung pandangan bahwa ruh dan benda itu azali atau sama
kekalnya seperti Allah Swt., sebagaimana
kepercayaan kaum Hindu.
Rangkaian Hukum “Sebab-Akibat”
(3) Dalam Surah Al-Quran lain Allah Swt. berfirman mengenai
penolakan faham bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. “Anak Allah” – na’udzubillaahi min dzaalik – dan hubungannya
dengan penciptaan tatanan alam semesta:
وَ
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ لَّہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلٌّ لَّہٗ قٰنِتُوۡنَ ﴿۱۱۷﴾ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِذَا قَضٰۤی اَمۡرًا فَاِنَّمَا یَقُوۡلُ
لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿۱۱۸﴾
Dan mereka berkata: ”Allah
mengambil yakni memiliki seorang
anak.” Maha Suci Dia. Tidak, bahkan milik Dia-lah apa pun yang ada di
seluruh langit dan di bumi, semua
tunduk kepada-Nya. Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh langit dan bumi, dan apabila Dia
menetapkan sesuatu urusan maka Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah”
maka terjadilah ia. (Al-Baqarah [2]:117-118).
Kata
“anak Tuhan” dipergunakan secara tamsilan (kiasan) dalam kepustakaan
agama Yahudi dengan artian “hamba Tuhan yang tercinta” atau “seorang
nabi,” lalu kemudian hari menjadi mengandung arti harfiah (Lukas
20:36; Matius 5:9, 45, 48; Ulangan 14:1; Keluaran
4:22; Galatia 3:26; dan
sebagainya).
Jika
Allah Swt. mempunyai anak maka
Dia pasti dikuasai oleh nafsu dan
memerlukan istri serta dapat terbagi, sebab anak merupakan
bagian tubuh ayahnya, dan juga
Allah Swt. tentu harus tunduk
kepada hukum mati, sebab mempunyai keturunan — sebagaimana terkandung
dalam penisbahan seorang anak kepada Allah Swt. — merupakan ciri khas wujud-wujud yang
dapat binasa. Islam menolak semua paham serupa itu sebab, menurut Islam Tuhan itu Maha Suci, bebas dari segala
kekurangan atau cacat.
Sifat
Al-Badii’ (Yang Memulai
Penciptaan)) bukan saja menentang dogma
agama Kristen tentang ketuhanan Isa, tetapi juga dengan jitu menolak
teori agama Hindu bahwa ruh dan benda itu azali
(tidak ada permulaannya) dan kekal:
(1)
Allah Swt. adalah Pencipta
seluruh langit dan bumi, yang berarti
bahwa Dia tidak memerlukan pertolongan anak atau siapa pun untuk menjadikan
alam semesta.
(2)
Allah Swt. adalah Yang
menyebabkan terjadinya alam semesta, artinya Dia menjadikan segala sesuatu dari
serba tiada, tanpa contoh yang telah ada sebelumnya, dan tanpa bahan yang telah
ada sebelumnya.
(3)
Dia Maha Kuasa, artinya bila Dia menetapkan sesuatu hal atau benda harus
berwujud maka hal atau benda itu berwujudlah sesuai dengan perintah dan
rencana-Nya.
Jadi,
ayat “Kun fayakun” tidak seharusnya berarti seperti kadang-kadang
dengan keliru disangka orang bahwa bila Allah Swt. menetapkan sesuatu zat harus berwujud
maka zat tersebut berwujud dengan tiba-tiba. Apa yang dimaksudkan
ialah, bila Dia menakdirkan sesuatu
zat terwujud, tiada yang dapat merintangi takdir-Nya.
Dalam
pengertian itulah makna “Kun fayakun”
yang terdapat dalam Al-Quran, bahwa -- walau pun benar bahwa kekuasaan Allah
Swt. itu tidak terbatas -- tetapi demi
untuk kepentingan umat manusia sendiri
dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan maka Allah Swt. telah
menetapkan rangkaian “hukum
sebab-akibat” dalam penciptaan alam semesta dan juga dalam hal penciptaan manusia.
Demikian
pula penciptaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun tidak lepas dari ketetapan “hukum
sebab akibat” melalui rahim seorang perempuan (ibu) selama 9 bulan,
sebagaimana yang terjadi dalam proses penciptaan umumnya umat manusia (QS.4:2;
QS.49:14; QS.22:6; QS.23:13-15; QS.31:15; QS.46:16).
Jadi,
tidak ada seorang manusia pun yang
menjadi manusia secara tiba-tiba
melalui perkataan “Kun fayakun!” sebagaimana yang secara keliru telah
difahami. Ada pun firman Allah Swt. “Kun fayakun” mengenai Siti Maryam bukan mengenai wujud Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
melainkan mengenai proses kehamilan ibu beliau tanpa melalui “pembuahan rahim” yang biasa terjadi di kalangan perempuan yang melahirkan anak.
Hakikat Nama “Isa Ibnu (Anak) Maryam”
Penamaan
“Isa Ibnu Maryam” kepada bayi yang dilahirkan oleh Siti Maryam memberikan
penjelasan yang sangat jitu, bahwa kedudukan Siti Maryam a.s. bagi “bayi”
yang dilahirkannya adalah sebagai ibu merangkap sebagai ayah si
bayi. Itulah sebabnya Allah Swt. melalui malaikat Jibril a.s. memberitahukan kepada Siti Maryam bahwa bayi yang akan dilahirkannya nanti
bernama Isa Ibnu Maryam (Isa anak Maryam - (QS.3:43-48),
bukan Isa IbnulLaah (Isa anak Allah) – na’udzubilLaahi min
dzaalik – sebagaimana yang kemudian direkayasa oleh Paulus
dalam surat-surat kirimannya.
Berikut pernyataan Allah Swt. lainnya bahwa
penggunaan “kun fayakun” berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah
hanya berkenaan dengan proses kelahirannya yang menyimpang dari
kebiasaan kelahiran umumnya manusia, bukan mengenai keadaan wujud
beliau, sebab mengenai wujud Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sedikit pun tidak ada perbedaan dengan
manusia lainnya bahwa untuk
mempertahankan hidupnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun perlu
makan, minum, bernafas dan lain-lain, firman-Nya:
اِنَّ مَثَلَ عِیۡسٰی عِنۡدَ اللّٰہِ کَمَثَلِ اٰدَمَ ؕ خَلَقَہٗ مِنۡ
تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَہٗ کُنۡ فَیَکُوۡنُ
﴿۶۰﴾
Sesungguhnya
misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti misal penciptaan Adam Dia menjadikannya dari debu kemudian Dia berfirman kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah
ia. (Ali ‘Imran [3]:60).
Kata
Adam utamanya berarti orang laki-laki, yakni anak-cucu Adam a.s. seumumnya. Dengan demikian Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s dinyatakan seperti
makhluk lainnya tunduk kepada hukum mati dan semuanya dijadikan dari debu
(QS.40:68), karena itu tiada sifat Ketuhanan
melekat pada diri beliau.
Tetapi
bila kata Adam diartikan menunjuk kepada leluhur umat
manusia, maka ayat itu harus diartikan mengisyaratkan kepada persamaan antara Isa
dan Adam dalam hal adanya telah dilahirkan tanpa perantaraan
seorang ayah. Kenyataan bahwa Nabi Isa a.s. itu mempunyai ibu, tidak
mempengaruhi persamaan itu, dan seperti dinyatakan di atas persamaan itu tidak
seharusnya lengkap dalam segala hal.
Di
tempat lain dinyatakan bahwa manusia dijadikan dari thiin (tanah liat - QS.6:3). Perbedaan yang hendak
dikemukakan penggunaan kata “debu” dan
“tanah liat” adalah, bila dipakai kata “debu” wawasan mengenai wahyu
(air ruhani) tidak dimasukkan, tetapi kalau “tanah liat” yang dipakai maka
wawasan wahyu juga termasuk di dalamnya.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
CASINO HOTEL & CASINO, WALES, MO - KSH-HUB
BalasHapusJOHNN'S CASINO HOTEL & CASINO in WALES, 시흥 출장마사지 MO - Find reviews, hours, directions, 계룡 출장마사지 opening hours 문경 출장샵 and a detailed 대전광역 출장안마 profile 강릉 출장샵 of the casino.