بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLV
Tentang
Sunyi-senyapnya "Duel Makar" Dalam Peristiwa
Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪۵۱﴾
Dan Kami
menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu
Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang
memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber
mata air yang mengalir. (Al-Mukminuun
[12]:51).
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai kesuksesan “makar tandingan” yang Allah Swt.
laksanakan untuk menggagalkan “makar buruk” para penentang Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. melalui penyaliban, dan “makar buruk” para penentang Nabi Besar
Muhammad saw. untuk membunuh atau menangkap atau mengusir
beliau saw. secara hina dari Makkah – guna membuktikan kebenaran tuduhan dusta mereka
terhadap para Rasul Allah tersebut, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ
اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿۵۳﴾ رَبَّنَاۤ
اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ
الشّٰہِدِیۡنَ ﴿۵۴﴾ وَ مَکَرُوۡا وَ
مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪۵۵﴾
Maka tatkala Isa
merasa ada kekafiran pada mereka yakni kaumnya
ia berkata: ”Siapakah penolong-penolongku dalam urusan Allah?” Para hawari
berkata: “Kamilah para penolong urusan
Allah. Kami beriman kepada Allah, dan
saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah diri. Ya Tuhan kami, kami
beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul
ini maka catatlah kami bersama orang-orang
yang menjadi saksi.” Dan
mereka, yakni musuh
Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah pun merancang makar tandingan dan Allah sebaik-baik Perancang makar.
(Ali ‘Imran [3]:53-55).
Kuburan Nabi Isa Ibnu Maryam di Kasymir
Orang-orang
Yahudi telah merencanakan supaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas
salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt. adalah beliau harus selamat dari
kematian semacam itu. Rencana (makar) buruk orang-orang Yahudi gagal sedangkan
rencana (makar) tandingan Allah Swt. berhasil,
sebab beliau tidak mati terkutuk di atas salib – sebagaimana yang direncanakan
oleh para pemuka agama Yahudi -- melainkan beliau diturunkan dari tiang salib dalam keadaan
hidup, dan wafat secara wajar di Kashmir dalam usia sangat lanjut – yakni 120 tahun -- dan
jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪۵۱﴾
Dan Kami
menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu
Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang
memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber
mata air yang mengalir. (Al-Mukminuun
[12]:51).
Karena kematian Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (Yesus) seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang
banyak dipertentangkan, dan beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih
tetap ada mengenai bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir
dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena persoalan cara
menemui ajal beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting bagi agama Kristen maka pada tempatnya
diberikan catatan yang agak lengkap
mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan
sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa
Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) tidak wafat di atas salib. Dalil-dalil dan
keteranggan-keterangan berikut menunjang dan mendukung pernyataan itu:
(1) Dalam bukunya "The Unknown Life
of Yesus". Nicholas Notovitch. seorang pengembara bangsa Rus yang
pernah melawat ke Timur Jauh pada kira-kira tahun 1877 menceriterakan. bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pemah
datang ke Kasymir dan Afghanistan. Sir Francis Younghusband yang pada waktu
Nicholas Notovitch mengunjungi Kasymir adalah seorang penduduk berkebangsaan
Inggris di istana Maharaja Kasymir, bertemu dengan dia di dekat Zojila Pass.
Penyelidikan terbaru mengenai
perjalanan-perjalanan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Timur memberikan dukungan kuat
kepada buku Notovitch. Profesor Nicholus Roerich dalam bukunya "Heart
of Asia" mengatakan: "Di Srinagar kami mula-mula menemukan
hikayat yang aneh sekitar kunjungan
Yesus ke tempat itu. Kemudian kami melihat betapa tersebar-luasnya di India, di
Laddakh, dan di Asia Tengah hikayat mengenai kunjungan Yesus ke berbagai-bagai
daerah itu. Di seluruh Asia Tengah, di
Kasymir, di Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan lebih ke utara lagi masih
terdapat kepercavaan yang kuat bahwa Yesus atau Isa berkeliling di daerah
itu ("Glimpses of World
History" oleh Yawaharlal Nehru).
Beberapa sarjana telah berlindung di belakang
beberapa bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus
datang ke Timur sebelum dan bukan sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi
Allāh. Tetapi seorang anak yang berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti
usia Yesus ketika datang ke India, tidak mungkin mempunyai gagasan melaksanakan
suatu perjalanan panjang dan sulit ke tempat yang begitu jauh, dan dengan demikian
menantang bahaya maut di tengah perjalanan.
Gerangan
tarikan apa atau tujuan apakah yang mendorong Yesus pada usia yang semuda itu, datang ke India? Dan seandainya
beliau sungguh datang ke India pada masa itu, kepentingan apakah yang mendorong
orang-orang India dan Kasymir untuk memelihara catatan mengenai
kegiatan-kegiatan dan pengembaraan-pengembaraan seorang anak yang berusia 13
atau 14 tahun?
Kenyataan berdasarkan pada catatan-catatan
sejarah yaitu bahwa sesudah beliau ditolak
oleh orang-orang Yahudi dan jiwa
beliau dalam keadaan bahaya di Palestina,
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan negeri itu guna mencari —
untuk memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam Bible. — "Sepuluh suku Bani
Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India
dan Kasymir dan menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120
tahun (Kanz al-Ummal,
Jilid 6).
Saat itulah catatan-catatan mengenai
kegiatan-kegiatan beliau mulai disimpan. "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang”
itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh bangsa-banasa Assiria dan
Babilonia, dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang
Iran di bawah Darius dan Cyrus meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke
timur yaitu ke Afghanistan dan India, maka suku-suku itu berhijrah bersama-sama dengan mereka ke
negeri-negeri tersebut.
(2) Orang-orang Kasymir dan Afghan adalah
keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil sang Hilang” itu. Kenyataan ini
nampak jelas dari riwayat, sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum
tersebut. Nama kota-kota dan kabilah-kabilah mereka, bentuk tubuh mereka
dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi. Barang-barang
pusaka mereka dan prasasti-prasasti kuno mereka menyokong pandangan itu.
Ceritera-ceritera rakyatnva penuh dengan kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama
Kasymir sendiri sebenarnya Kasyir yang berarti "seperti
Siria" (atau nampaknya nama Kasyir
itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s..). Semua
kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir
sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang."
(3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi
untuk menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh datang ke Kasymir dan
orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang
Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan beliau
ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di
kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal
dengan berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda
Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan bahkan kuburan Isa Sahib
(Baginda Isa).
Arti Kata
“Yesus” atau “Yasu”
Menurut penuturan sejarah yang
telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun
lampau dan mengajar dengan memakai tamsil dan mempergunakan banyak
tamsil-tamsil yang tercantum dalam Injil.
Dalam sebagian buku sejarah tertentu. beliau digambarkan sebagai seorang
nabi. Tambahan pula Yus Asaf itu
suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu” yaitu ”pengumpul"
yang merupakan salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani
Israil yang telah hilang ke pangkuan Majikannya, sebagaimana beliau sendiri
katakan: "Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba
ini, maka sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar
akan seruanku, lalu akan menjadi
sekawan, dan gembala seorang sahaja" (Injil Yahya 10:16).
Kutipan-kutipan yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit
penjelasan mengenai masalah ini:
"Makam itu pada umumnya dikenal sebagai
makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran yang datang ke Kasymir dari sebuah
negeri asing dan giat dalam mengajar orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf (Tarikh
A'zhami, hlm. 82-85).
"Yus Asaf mengembara di beberapa
negeri hingga beliau tiba di sebuah
negeri yang disebut Kasymir. Beliau menjelajah
seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din,
hlm. 258-359).
"Hikayat Kasymir itu — demikian
diberitahukan kepada sava — menyebutkan seorang nabi
yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran seperti dilakukan oleh
Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang sampai saat ini
dituturkan orang di Kasymir” (John
Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh sebab itu kepergian Isa a.s. ke India dan wafat di Srinagar tidak
bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi akal atau sejarah" (Tafsir
al-Manar, jilid 6).
Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih
lengkap mengenai masalah ini lihat buku
"Masih Hindustan Mein" (Al-Masih di India) ditulis oleh
Hadhrat Ahmad, Masih Mau'ud a.s.. Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene
Gospel Restored” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara
resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi namun Yesus masih hidup selama 20 tahun
sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai
tempat di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib,
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunda beliau tinggal
dengan aman-sentausa dan pulang ke rahmatulLah, daripada yang
dikemukakan oleh Al-Quran dalam
kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan
sumber-sumber air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat
tepat mengenai Lembah Kasymir yang indah
itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan Abadi".
Jadi, betapa
senyapnya keadaan “makar
tandingan” Allah Swt. tersebut -- tidak seperti makar buruk yang
dilakukan para penentang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang penuh dengan ingar-bingar, kasar serta zalim
namun
terbukti gagal total -- “makar tandingan” Allah Swt. tersebut
benar-benar mencapai berbagai target yang
telah ditetapkan Allah Swt., di
antaranya adalah terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari “kematian
terkutuk” di tiang salib serta keberhasilan beliau melaksanakan
missinya mencari “10 domba Israil”
yang hilang dan tersesat di luar wilayah Kanaan (Palestina),
sehingga dengan demikian pemberian gelar
Al-Masih kepada beliau tepat dan benar adanya firman-Nya:
اِذۡ
قَالَتِ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یٰمَرۡیَمُ اِنَّ اللّٰہَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَۃٍ مِّنۡہُ
٭ۖ اسۡمُہُ الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ وَجِیۡہًا فِی الدُّنۡیَا وَ
الۡاٰخِرَۃِ وَ مِنَ الۡمُقَرَّبِیۡنَ ﴿ۙ۴۶﴾
Ingatlah ketika para malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah
memberi engkau kabar gembira dengan satu kalimat dari-Nya tentang kelahiran seorang anak
laki-laki namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dimuliakan di dunia serta di akhirat, dan
ia adalah dari antara orang-orang yang didekatkan kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:46).
Al-Masih diserap
dari masaha yang berarti: ia menyapu bersih kotoran dari barang itu
dengan tangannya; ia mengurapinya (menggosoknya) dengan minyak; ia berjalan
di muka bumi; Tuhan memberkatinya (Aqrab). Jadi, Masih berarti:
(1) orang yang diurapi; (2) orang yang banyak mengadakan perjalanan; (3)
orang yang diberkati. Al-Masih adalah
bentuk kata Arab dari Mesiah yang sama dengan Masyiah
dalam bahasa Ibrani, artinya orang yang diurapi [dalam upacara pembaptisan,
Pent.] (Encyclopaedia. Biblica; Encyclopaedia of Religions
& Ethics).
Nabi
Isa a.s. diberi nama Al-Masih karena beliau banyak mengadakan perjalanan.
Tetapi kalau mengikuti penuturan Injil, tugas beliau hanya
terbatas untuk masa tiga tahun saja, dan perjalanan beliau hanya ke beberapa
kota Palestina atau Suriah saja, dengan
demikian gelar Masih itu
sekali-kali tidak cocok bagi beliau.
Tetapi penyelidikan sejarah akhir-akhir ini –
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya – telah membuktikan, bahwa sesudah
beliau pulih dari rasa terkejut dan luka-luka akibat penyaliban, Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. menempuh
perjalanan jauh ke negeri-negeri sebelah timur dan akhirnya sampai ke Kasymir
untuk menyampaikan amanat Ilahi kepada suku-suku Bani Israil yang hilang
dan tinggal di bagian-bagian negeri itu.
Kata Masih
seperti disebut di atas berarti pula “yang diurapi” , karena kelahiran Nabi
Isa tidak sebagaimana lazimnya dan mudah dipandang tidak sah, maka untuk
melenyapkan tuduhan yang mungkin dilancarkan beliau disebut “telah diurapi”
dengan urapan Allah Swt. Sendiri,
sama seperti para nabi Allah semuanya telah diurapi (disucikan).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar